Minggu, 18 Mei 2014

Yang ke-24



 Rumah yang kucari ini lebih tepat disebut kastil.Tak ada rumah lain di sekitarnya. Begitu sepi seperti layu tanpa warna. Aku mengetuk pintunya yang sudah usang berkali-kali. Hening. Pelan-pelan kubuka pintunya yang dipenuhi ukiran klasik. Bunyi berderit tertawa ditelingaku. Waduuh!Ternyata ruang dalam dari rumah tua tanpa warna ini penuh dekorasi warna pastel dan barang-barang cewek!
Kata mama aku bakal dapat kerja jadi sekretarisnya direktur perusahaan besar yang punya banyak saham dengan gaji lumayan, tapi kenapa rumah direkturnya unik begini?Aku ini cowok, tapi jalan-jalan nggak jelas di rumah yang luarnya kayak nenek sihir tapi dalamnya macam putri negeri dongeng.Ini ke-24 kalinya aku melamar kerja, jadi agak gugup karena sering dapat hasil jelek habis melamar kerja. Apa lagi nggak ada orang di rumah ya?Nggak ada siapa pun yang muncul meski aku ketuk dan buka pintu yang mudah berderit dan sulit terbuka itu.
"Sudah datang yaa!!" suara seorang perempuan memekik. Seluruh tubuhku segera menghempas mencari asal suara itu. Ah, rupanya perempuan yang berdiri di lantai dua yang memekik itu. Suaranya terdengar sangat riang, dan ternyata wajahnya nggak kalah riang dengan suaranya. Dia sangat cantik, dengan rambut hitam panjangnya yang jatuh, bola mata bulat sempurna yang indah, kulit berwarna kuning dengan tubuh segar meski kurus yang dibalut dress berwarna merah muda polos yang dililit sabuk berbentuk pita warna coklat tua dipinggangnya.
Benar-benar menunjukkan seorang perempuan, dia seperti boneka saja.
Berbeda jauh denganku yang berambut cepak biasa dan hanya mengenakan kemeja biru dengan dasi hitam dipasangkan dengan celana hitam sederhana.
"Selamat siang, saya Wian. Saya mau melamar kerja sebagai sekretaris direktur perusahaan Raya Rita" kataku memperkenalkan diri dan menjelaskan keperluanku datang ke sana.
"Oh, jadi kamu anaknya bu Andri?Iya, aku ingat beliau menyebut namamu ditelepon."
Perempuan ini tersenyum, tapi aku bisa lihat dengan jelas senyumnya lebih dewasa daripada penampilannya. Eh?Tadi dia menyebut nama mama?
"Masa siih!!Kamu direkturnyaa?!" gantian aku yang memekik. Aku nyaris terlompat , untung kaki-kakiku punya saraf yang nggak mudah menuruti otakku kalau lagi no control.
"Iya, kenapa sekaget itu?" sahutnya dengan wajah heran.
Aduh, orang ini yang akan menentukan statusku tetap sebagai pengangguran atau berubah jadi sekretaris direktur perusahaan besar dengan gaji lumayan. Aku harus sopan, jangan sampai aku bikin dia yang kayak putri jadi kayak nenek sihir.
"Maaf, hanya saja penampilan anda jauh berbeda dari bayangan saya, jadi saya sedikit kaget."
Kuakhiri kalimatku dengan senyuman. Ya. Kubuat semanis mungkin! Supaya aku dapat madunya dan bukan sengatan lebahnya.
"Ya sudah, cepet ikut aku," dia berjalan meninggalkanku dan menghilang dibalik dinding. Aku berlari secepat kilat mengikutinya, dengan tetap masih mempedulikan benda-benda yang tampak mahal di sekitarku. Jangan sampai aku merusak permata-permata calon bosku ini.
Kami sampai di ruang kerjanya. Meski dekornya kayak kamar bersantainya putri raja, tapi kedua mataku membaca dengan sangat jelas kalau ruangan itu digunakan dan ditata sedemikian rupa sebagai ruang kerja. Apa orang-orang kaya dan sukses jaman sekarang memang antik super kayak gini yaa?Ah, sudahlah.
"Kamu bawa semua data buat lamar kerja kan?Nah, sekarang katakan kesan pertamamu padaku sejujur-jujurnya tanpa ada kebohongan sedikitpun!Kalau sampai kamu berani berbohong tentangku, aku bisa pastikan kamu nggak akan dapat kerja bahkan terrendah diantara yang rendah selamanya.Ceepaat!!"
Aduh!Mungkin hari ini memang sial banget aku!Mama nggak bilang kalau tes kerjanya ada yang nggak umum kayak gini!
Perempuan itu memandangku tajam. Leher dan paru-paruku ditikam mata seriusnya sekarang.
Aku jadi kesulitan bernapas dan bersuara. Kalau sudah begini, mustahil bisa bohong. Pasti dia sudah berhadapan dengan banyak pembohong sebelumnya. Pandangannya seolah mengancamku,"Buaya mau kamu kadalin?!"
"Kalau jujur.... Sebenarnya, saya pikir anda adalah kenalan atau kerabat direkturnya. Yah, saya sama sekali nggak menyangka, ternyata direktur perusahaan besar penampilannya kayak anak sekolah yang belum mateng. Dari sambutan pertama anda, saya berpikir kalau anda berkarakter manja dan cerewet."
Auranya jadi suram. Sesuram hantu yang paling suram, seolah ingin mencekik leherku sampai patah. Dia diam. Hening yang benar-benar mencambukku. Mampus deh!Apa harusnya tadi aku bohong aja yaa?!Tapi aku juga nggak mau dikutuk jadi nggak bisa dapat kerja selamanya bahkan kerjaan terrendah diantara yang rendah!Lima menit. Sepuluh menit.
Kini dia mulai bergerak, membuka amplop besar yang jadi oleh-olehku dan membaca cermat semua data yang sudah ditentukan untuk dibawa saat melamar kerja. Mama sialan!Tahu gitu aku terima aja tawaran Edo buat kerja jadi karyawan di kantor koran. Edo itu teman tergilaku yang tersayang, soalnya meski aneh tapi kegilaannya sering menolongku. Bukan maksud jadi durhaka sama mama, tapi baru kali ini aku melamar kerja dengan bos dan tes seaneh ini.
Perempuan itu sudah selesai membacanya dan membuang data-data itu keatas mejanya. Dia menghela napas sejenak. Senyumnya mengembang, membuatku jadi gugup.
"Kerja dulu 3 bulan pertama nggak apa?Nanti setelah 3 bulan selesai, baru aku bisa putuskan kamu bisa jadi sekretaris tetapku atau nggak."
"Tidak apa-apa!Terimakasih banyak!" seruku berbunga-bunga.
"Maaf ya, tadi aku sedikit galak dengan tanya pendapatmu padaku. Selama ini pelamar kerja jadi sekretarisku selalu bohong setiap aku beri tes ini, jadinya aku selalu galak setiap memberi tes ini."
"Maaf, tapi kalau boleh tahu kenapa anda memberi tes seperti ini?Selama ini saya tidak pernah disuruh menjawab pertanyaan kesan pertama pada atasan setiap melamar kerja," kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku sempat kaget dan menyesal sekali setelah mengatakannya. Memang terkadang saraf-sarafku nggak menurut dengan otakku.
"Kenapa?Soalnya kalau dari pertama saja sudah bohong dalam hal kecil seperti itu, berarti orang itu tidak bisa dipercaya dalam hal besar juga kan?Meski hanya sekretaris, jangan dianggap enteng karena akan menjadi sekretaris direktur. Bukannya sombong, tapi perusahaan yang kujalankan punya cara kerja yang profesional dan karena sangat sibuk, memerlukan ketekunan dan kemampuan menangani masalah-masalah kantor dengan sigap dan tepat. Didasari kejujuran dan tanggung jawab."
Wah, ternyata dia orang yang punya kebijaksanaan tinggi dan pintar memilih pekerjanya, pantas saja dia bisa menjadi direktur perusahaan besar. Tapi aku kurang paham dengan seleranya.
"Nah, ada lagi yang mau kamu tanyakan?Jangan sungkan," tawarnya.
"Maaf, bisa beri tahu aku nama anda?Mama saya belum mengatakannya pada saya."
Kedua matanya melebar sejenak, lalu mulutnya jadi melingkar sejenak.
"Aah!Benar juga, maaf, maaf. Aku sendiri sampai lupa. Ingat baik-baik ya!Namaku Rita, panggil nona Rita aja ya. Kalau kamu memaksa buat memanggil putri juga nggak masalah kok," katanya tertawa centil. Kembali lagi pada dirinya yang menjadi kesan pertamaku.
"Ada lagi yang kamu ingin tahu?" tanya nona Rita.
"Ah, dari tadi saya penasaran. Kenapa penampilan luar rumah ini bagai kastil tua dan tak ada rumah lain di sekitar sini?Tapi dekor dalamnya seperti istana putri."
"Oh!Cuma hal sepele kok. Papaku dan aku sempat berebut dekorasi rumah yang diinginkan, aku inginnya begini tapi papaku ingin begitu. Tapi mamaku menengahi kami, akhirnya dekor luar sesuai keinginan papa dan dekor luar sesuai keinginanku. Papa memilih rumah di tempat ini karena kurang suka bersosialisasi, jadi sekalian saja tanah di sini dibelinya."
Uuapaa?!Tanah sebesar ini dibeli sendiri bikin rumah sebesar inii?!Tapi, ini seperti tanah satu perumahan saja. Memang dasar orang kaya, hobinya aneh-aneh. Kebanyakan uang jadi kebanyakan tingkah nggak umum. Aku bisa dengan jelas membayangkan penampilan dan karakter papa calon bosku ini, pasti kayak kakek sihir.
"Maaf, saya mau tanya satu hal lagi. Sebenarnya anda siapanya mama saya?Bagaimana anda bisa saling kenal?" tanyaku. Inilah hal yang paling ingin kutanyakan, no.1 yang harus kudapatkan jawabannya!
"Mamamu dan aku hanya kenalan biasa kok. Dulu mamamu sempat menjadi guru kursusku. Cuma 2 bulan, tapi sangat menyenangkan bersama mamamu!" jawabnya. Kini kedua matanya menyipit dengan senyum melebar.
Kami membicarakan sedikit tetang kehidupan masing-masing. Meski punya hobi dan selera yang aneh, tapi nona Rita enak diajak ngobrol dan nggak jaim, juga nggak sombong. Aku merasa seperti sedang ngobrol dengan teman sendiri, padahal dia ini calon bosku. Menyenangkan sekali!Maaf ya mama, aku sempat menyalahkanmu. Tapi sekarang aku paham kenapa mama memilihkan pekerjaan ini untukku. Mama memang benar-benar sayang aku yaa?Setelah nona Rita membuatkanku segelas jus jeruk, aku pamit dan segera pulang ke rumah.
Mulai minggu depan, aku sudah bisa bekerja. Meski belum tetap, tapi ini kemajuan besar buatku yang sudah 23 kali melamar kerja selalu ditolak. Waah, terimakasih banyak, Tuhan sudah mempertemukan aku dengan nona Rita!Semoga saja aku bisa awet kerja sama dia, jadi bisa bikin hidupku dan hidup mama lebih nyaman lagi,hihihihi.


Karya ini diikut sertakan dalam tantangan #KalimatPertama dari @KampusFiksi. Kalimat pertamanya diambil dari buku Penjaja Cerita Cinta karya pak Edi Akhiles. Semoga tidak mengecewakan :)

Kamis, 01 Mei 2014

Dangerous Game

Jimmy dan Raven sangat bersemangat begitu sampai divila tempat mereka menginap dengan teman-teman sekelas.
Acara menginap itu bukan acara menginap biasa karena dikhususkan untuk melakukan permainan yang menguji nyali.
Mereka semua berkumpul diaula vila itu.
"Pegang gelas kaca masing-masing erat-erat.Cobalah masuk kedalam karpet kecil itu dan katakan 'datanglah' sebanyak tiga kali.Kalau gelasmu pecah,berarti roh yang kamu panggil datang memenuhi panggilanmu.Tapi jangan sampai tergores pecahan gelasmu,karena kalau sampai terjadi akan membuatmu dibawa keneraka oleh makhluk yang mengerikan!" kata Betty sang ketua kelas memberi instruksi.
Sudah lima anak melakukannya tapi tak ada pertanda apapun.
Kini giliran Raven melakukan instruksi Betty tadi.
Gelasnya gemetaran dengan sendirinya dan akhirnya pecah!
Tapi karena Raven terlalu senang tak sengaja ia menggenggam kuat-kuat pecahan gelasnya dan tergores hingga berdarah.
Dengan jelas Raven merasa kedua kakinya ditahan oleh dua tangan kurus.
Ia tak berani melihat kebawah dan semua anak menjerit ketakutan dan berhamburan,tapi kemudian mereka jatuh pingsan.
Hanya seorang yang tak pingsan.
Tetapi wajahnya menjadi sangat mengerikan.
Bola matanya menjadi merah kecoklatan,ditangan kanannya muncul simbol yang dilihat Raven dikarpet kecil tempatnya berdiri,suaranya mengerang seperti monster,kulitnya mengering seperti tanah dan rambutnya berubah menjadi sangat panjang dan rambutnya mencekik leher Raven.
"Kita dapat teman baru,kak.Ayo,kita bawa pulang....keneraka" gumam perempuan itu lirih dengan senyum menyeringai.
Esok paginya semua orang yang ikut permainan itu bangun dalam keadaan sudah dikamar masing-masing dan bersiap pulang setelah makan.Jimmy mencari-cari teman sekamarnya divila itu tapi tak kunjung ditemukannya.
"Betty,apa kau melihat Raven?aku tidak melihatnya sejak tadi bangun"tanya Jimmy.
"Kau masih mengingatnya?padahal dia sudah pergi keneraka dan tak ada yang mengingatnya.Apa kau mau menyusulnya?"

Terror Call

Malam-malam Vivi sendirian dirumahnya karena kedua orangtuanya berangkat menjenguk nenek Vivi yang sakit.
Vivi tidak bisa ikut karena besok harus sekolah.
Vivi berbaring dikamarnya dengan perasaan cemas&ketakutan.
Kriing!!
Telepon rumah berdering.
Vivi berjalan keluar menuju ruang tamu dengan menyalakan semua lampu dan mengangkatnya.
"Halo?" tak ada jawaban,sunyi hening.
Vivi menutupnya,tapi tiba-tiba telepon itu berdering kembali.
"Haaloo?!" seru Vivi mengangkatnya dengan kesal.
Terdengar suara lirih seorang perempuan dan tawa seorang laki-laki yang menggema.
Vivi ketakutan dan segera menutup telepon itu,ia berlari menuju kamarnya dan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tok!Tok!Tok!Tok!
Terdengar bunyi ketukan dari balik jendela.
Perlahan-lahan Vivi membuka tirai jendela kamarnya.
Tak ada apapun.Tiba-tiba telepon berdering kembali.
Vivi tak mau mengangkatnya,namun telepon itu terus berdering.
Vivi menyerah dan mengangkatnya.
"Kenapa malam-malam sendirian dirumah?Apa kamu mau mengundangku bermain?" tanya seorang anak perempuan.
"Jangan keluar rumah kalau tidak mau main malam-malam" kata seorang anak laki-laki.
Vivi menutupnya tanpa menjawab.
Sekali lagi terdengar bunyi ketukan,kali ini datangnya dari pintu depan.Vivi membukanya perlahan sambil mengintip.
"Main,yuk!" kata sebuah boneka perempuan yang tubuhnya menyatu dengan boneka laki-laki dengan tersenyum mengerikan.
"Mimpi yang indah" gumam boneka laki-laki itu tertawa.
Vivi kira ia salah lihat,namun matanya masih normal.
Kedua boneka itu benar-benar berbicara.

Bloody Umbrella,Say Goodbye

Saat ulangtahunku yang kesepuluh,Rolland memberiku payung itu sebagai hadiah.
Payung berwarna merah dengan motif kotak-kotak yang indah.
"Waduh!Hujan,nih!Aku harus cepet pulang,adikku sendirian di rumah nanti kasihan dia takut!" seru Rolland buru-buru membereskan buku-bukunya.
Hari ini aku kerja kelompok dengan Rolland,Margareth dan Teddy di rumahku untuk tugas kelompok.
"Ya,udah pake aja payung ini.Kamu nggak bawa payung,kan?" tawarku pada Rolland dengan menyodorkan payung hadiah darinya.
"Waduh!Aku lupa bawa payung.Bener boleh?Kamu,kan suka payung ini" tanya Rolland memandangku ragu.
"Sudah,pake aja!Cepet pulang biar Lala nggak ketakutan lagi di rumah" jawabku mendesaknya.
Rolland menerima payung itu.
"Makasih,ya Ruby!Besok kukembalikan,aku pulang dulu semua!" seru Rolland buru-buru lari keluar tanpa mendengarkan balasan dari Teddy dan Margareth untuk pamitannya itu.
"Adiknya Rolland masih kecil,ya?Kok,takut sendirian" tanya Teddy.
"Iya,masih umur 5 tahun.Kasihan,kan sendirian" jawab Margareth.
"Memangnya orangtua mereka pergi?" tanya Teddy lagi.
"Iya,kata Rolland mamanya mengantar papanya yang mau dinas ke luar kota" jawabku.
Kami lanjutkan pekerjaan kami tanpa Rolland.Saat itu kami tenang-tenang saja.
Esoknya Rolland tidak masuk sekolah.Tidak ada yang tahu penyebab dia absen hari ini,aku jadi agak cemas.
Hari ini turun hujan yang jauh lebih deras daripada kemarin.
Aku nggak bisa pulang soalnya lupa bawa payung dan aku selalu ke sekolah dengan berjalan kaki,begitupun pulang ke rumah.
Akhirnya kuputuskan untuk lari aja ke rumah!
Belum sampai lima langkah,suara seseorang yang kukenal memanggilku.
"Ruby?Mau pulang?" tanya Rolland tersenyum.
Dia memakai payung yang kemarin kupinjamkan.
"Rolland?!Ya,ampun!Kenapa kamu nggak masuk?" seruku kaget melihatnya.
Rolland hanya diam dan tersenyum.
"Kamu mau pulang,kan?Ayo,pulang sama-sama.Aku juga sekalian kembalikan payungmu ini" kata Rolland.
Aku menerima tawaran itu dan kami sepayung lalu pulang bersama.
"Hei,kenapa kamu tadi nggak masuk?Nggak kasih kabar juga ke sekolah" sergahku.
Kali ini Rolland hanya tertawa,dan lagi-lagi tak menjawab.
"Terimakasih buat payungnya,tapi kemarin aku nggak sempat pulang" kata Rolland.
"Apa?Kenapa begitu?" tanyaku kaget.
"Ada hambatan,tapi tadi pagi aku sudah pulang" jawab Rolland.
Aku sama sekali tak mengerti apa yang dikatakannya,tapi aku tak mempedulikannya karena perhatianku berpusat pada bau amis yang menusuk hidungku.
"Kamu nggak mencium bau amis?Kayak bau darah" tanyaku sambil mengendus-endus.
"Ooh,jangan khawatir.Itu bau darahku,kok" kata Rolland tertawa.
Jantungku berdebar keras mendengarnya!Badanku gemetaran hingga tak bisa jalan dengan benar.
JDEERR!!Tiba-tiba petir menghantam langit keras-keras hingga mengguncang gendang telinga setiap orang yang mendengarnya.
Disaat yang bersamaan,tubuh Rolland mendadak berlumuran darah.
Ia tersenyum dan menyodorkan payung merah itu padaku.
"Selamat tinggal,Ruby" gumamnya tersenyum menyeringai.Wajahnya yang berubah menjadi sama seramnya dengan hantu.
Aku sempat merasa takut,tapi kemudian merasa bersyukur bisa bertemu Rolland untuk terakhir kalinya.
Seketika itu Rolland lenyap tanpa jejak.Payung itu tergeletak diatas tanah dan hujan menyerangku lagi.
Saat Rolland mengakui semuanya,tak sedikitpun kedua mataku berkedip.
Sampai di rumah,mamaku memberitahu bahwa Rolland kemarin tertimpa kecelakaan saat akan pulang dan meninggal,pagi tadi baru dimakamkan.
Selamat jalan,Rolland.Darahmu yang menempel pada payung hadiah darimu tak akan kuhapus,sebagai kenang-kenangan terakhir darimu.