ZONKDIAK
Pagi itu, sekolah diawali dengan pelajaran bahasa Indonesia. Hari pertama belajar aktif saat tahun ajaran baru terasa tidak bersemangat. Murid-murid kelas XI IPA-1 sudah harus memulai tugas kelompok: membuat drama. Pak Udin baru saja mengumumkan pembagian kelompok, lengkap dengan nama tiap ketua dan para anggotanya. Satu kelompok diisi lima orang anggota sudah termasuk ketua.
Bobi memerhatikan
sosok-sosok yang duduk melingkar bersamanya. Jika melihat dari gaya bicara
Daniel, sang ketua, Bobi menyimpulkan bahwa dia adalah seorang Leo. Pemimpin
yang agresif dan penuh semangat, beberapa kali membicarakan tentang kemampuan
bersandiwaranya (Bobi merasa orang itu sedang pamer), dan sulit menyetujui
usulan dari lawan bicaranya. Ia juga tampak tak segan bicara banyak dengan
orang yang belum terlalu dikenalnya.
Berikutnya Erika, gadis
yang menjadi lawan bicara Daniel. Bobi yakin gadis ini di bawah naungan zodiak Virgo.
Penampilannya tidak mencolok, namun sangat rapi, dengan potongan rambut sebahu
yang pas, dan kuku yang ditata dengan sangat baik meski tidak dicat. Ia sudah
berkomentar cukup banyak pada Daniel tentang pemikirannya: tema dan judul
drama, karakter yang akan kami perankan, perkiraan kostum yang harus dikenakan
tiap tokoh, dan sebagainya, hingga terdengar sudah mendetail. Dia memang lawan
bicara yang tepat bagi ketua kami. Argumennya kuat, dan dia sangat serius dalam
mempertahankannya.
Di samping Erika ada
Yosie, gadis berambut pendek dengan kacamata kotak yang sangat pas membingkai
bola matanya yang kecil. Dia sangat kalem, tidak banyak bicara, tapi selalu
tersenyum setiap ada yang menyapanya, dengan tatapan yang ramah. Yosie
memancarkan keanggunan yang menyejukkan. Bobi berani bertaruh, bahwa gadis itu
berzodiak Taurus, sama dengannya. Pembawaannya tenang, namun juga mampu
menyuguhkan keramahan yang hangat.
Berpindah pada gadis
artis yang menjadi pusat perhatian dan pembicaraan di kelas Bobi, Tasya. Pasti
akan lebih enak dipandang jika minimal dia duduk diam meski tidak bicara apa
pun. Namun, gadis itu sangat parah. Dia tidur dengan posisi duduk, dan
telinganya disumbat oleh earphone
biru. Bobi sudah melihatnya saat hari pertama memasuki kelas sebelas, dan ia
tak bisa membantah jika dibuat kagum oleh penampilan Tasya. Bola mata sebulat
Anne Hatheway, rambut melewati bahu yang seindah sutra, dan bibir mungil dengan
warna merah muda pucat yang memberi nuansa imut, pada wajahnya yang diukir
dengan cantik.
Tasya hanya akan
melepas earphone-nya jika diajak
bicara seseorang. Orang itu harus menyentuhnya, karena dia benar-benar tidak
dengar meski ada orang berteriak-teriak tepat di sebelah telinganya. Tampak
bosan, egois, cuek, dan tidak berminat dengan sekolah. Bobi sangat yakin ia
tidak akan cocok dengan Tasya. Dia tidak pernah memiliki pengalaman yang
menyenangkan dengan gadis cantik. Ia bahkan tidak pernah memiliki teman dekat
seorang gadis populer, terutama yang tampak jelas keegoisan dan
ketidakpeduliannya pada sekitar.
“Guys,” suara lantang Daniel menjadi magnet. Teman-teman satu
kelompoknya menoleh, kecuali Tasya. “Pak Udin tadi bilang, hari ini kita
diskusi singkat aja. Nah, dua minggu lagi kan kita udah harus perform dramanya, jadi masalah tema,
judul, dialog, jalan cerita sama tokohnya kita omongin di grup chat aja ya nanti. Erika udah bikin daftar
line, kalian isi dulu ya.”
Mendadak, Daniel
memberi isyarat pada Bobi. Ia menyuruh laki-laki berkacamata itu memberitahu
Tasya, yang duduk di sebelahnya, bahwa mereka harus mengisi nama akun line
masing-masing untuk membuat grup. Bobi menolak. Ia menggeleng, sama sekali tak
sungkan, bahkan meski ketua kelompoknya yang menyuruh. Daniel memaksa.
Dibuatnya ekspresi mengancam, dan Bobi terpaksa mengalah karena tak enak pada
anggota yang lain jika sampai melihat pembicaraan serba isyarat dua orang itu.
“Tas, Tasya,” diketuknya
perlahan lengan gadis itu dengan jari telunjuk. Tasya melepas earphone-nya, dan menoleh pada Bobi.
“Kita mau bikin grup chat—”
“Hei Jojon! Berani
banget ya kamu megang-megang aku, udah dipikir belum tanganmu bersih apa nggak?”
tukas gadis itu, dengan suara ketus. “Jangan-jangan banyak kumannya yang bisa
bikin nular kebegoanmu lagi! Kacamata setebel pantat botol gitu enak banget
manggil-manggil aku!”
Dalam lingkaran
kelompok itu meletus sebuah tembakan suar dalam kepala tiap anggotanya. Kecuali
Bobi dan Yosie, yang hanya melongo.
“Woi, Tasya! Lu pikir
yang butuh bikin grup chat cuma kita
hah?! Lu bukan murid gitu?!” semprot Daniel, yang merasa mulut Tasya sudah
kelewatan.
“Haah? Ngapain kamu
ikut-ikut? Cowok kebanyakan bacot kayak kamu gak pantes jadi ketua tahu! Nasib
beruntung aja ngesok,” balas Tasya dengan ekspresi merendahkan.
Erika pun angkat
bicara. “Mulutnya dijaga ya, Tas. Kamu itu memang artis, tapi kamu juga sekolah
kan di sini? Posisi kita sebagai murid sejajar lho!”
Mereka menghabiskan
lima menit terakhir sebelum istirahat untuk bertengkar, dan begitu bel berbunyi
ketiganya berpisah dalam suasana yang keruh. Namun sebelum melangkahkan kaki ke
kantin, Tasya menyambar kertas daftar akun line yang dipegang Bobi dan mengisi
nomor terakhir. Ia sama sekali tak mengatakan apa pun, lalu pergi begitu saja.
Bobi menghela napas
panjang. Sepertinya ia satu kelompok dengan gadis Scorpio yang menyebalkan.
****
“Tasya Scorpio? Terus
kenapa?” tanya Aldo, sahabat Bobi yang pebasket andalan, memasang tampang
heran.
Sebelum menjawab, Bobi
teringat oleh sosok Tasya, gadis cuek yang berlidah tajam dan kasar. Kemudian
dipandangnya lurus sahabatnya, yang menenggak coca cola kaleng. “Lidahnya susah
dijaga, semaunya sendiri, nggak punya sopan-santun kayaknya. Pasti kelompokku
bakal banyak ributnya pas kumpul nanti.”
“Hmm, bisa jadi,” Aldo
sama sekali tak membantah. “Tapi aku agak syok denger ceritamu soal dia adu
mulut sama Daniel sama Erika. Beneran ya?”
Bobi cemberut. “Kok
jadi curiga gitu? Kamu kira aku bohong?”
Aldo menggeleng sambil
nyengir. “Nggak gitu, tapi masih susah percaya aja. Bukan karna omonganmu, tapi
Tasya-nya. Aneh banget gitu, kamu pernah liat dia di TV nggak? Dia bisa riang
banget, banyak senyum, bisa ketawa sama pembawa acara, terus keliatan ramah dan
santun banget gitu.”
“Jangan bilang kamu
nontonnya setengah tidur,” ledek Bobi tak percaya.
“Lho, sungguan Bob,”
pandangan Aldo berubah kesal. “Hari ini harusnya dia bakal muncul lagi di acara
gosip sih. Dia digosipin pacaran sama atlet bulu tangkis, tapi kemarin dia
diundangnya buat ngomongin film barunya. Aku liat iklannya hari ini dia bakal
ngasih klarifikasi buat gosip itu sih, jam lima nanti.”
Bobi sama sekali tak
takut menerima tantangan Aldo itu. Ia akan memastikan sendiri, apakah sosok
Tasya di kamera benar-benar sama seperti yang diceritakan sahabatnya itu.
Sepulang sekolah, Bobi mengatur alarm ponselnya pukul 17.00 WIB. Sebelum acara
gosip itu mulai, Bobi menghabiskan waktu dengan menggambar original character-nya dengan ibis Paint, ngemil oreo, tiduran
sambil main game di HP, lalu akhirnya
menjeritlah alarmnya. Laki-laki berambut mirip Jojon itu segera melompat ke
ruang tamu dan meraih remote TV.
Ia menyetel channel yang dikatakan Aldo, dan
benar-benar mendapati sosok Tasya. Dia tampak lebih cantik dan mencolok. Gadis
itu mengenakan crop top putih dengan
tulisan brand atasan itu, dipasangkan
dengan rok high waist hitam pendek
gaya Korea. Rambutnya dikeriting halus untuk membuat kesan imut.
[Jadi bener gak sih,
Tasya itu pacaran sama si A yang pebulu tangkis itu? Banyak yang liat kalian
sering jalan bareng, terus pernah juga Tasya keluar dari mobil dia ya?]
Nada bertanya host itu menggebu-gebu.
Dengan senyum lembut
dan gesture tenang, Tasya menjawab.
[Nggak kok, kami cuma
temen satu job. Jadi, sebenernya kami
bakal muncul di iklan produk cookies terbaru
keluarannya Y. Merk itu mau ngeluarin produk baru, nah kami direkrut buat iklan
promosi mereka.]
Bobi nyaris menahan
napas saking tak percayanya.
Itu Tasya.
Natasya Cindy Rahardjo
yang satu kelas dengannya, teman sekelompok yang baru tadi pagi membentaknya
dengan kata-kata setajam pisau. Kacamata Bobi sampai melorot, dan laki-laki itu
baru menyadarinya.
[Oooh bakal ngeluarin cookies?! Rasa apa tuh? Bisa cerita
dikit garis besar iklannya kayak gimana?]
Dengan suara anggun dan
penuh kesabaran, Tasya menjelaskan informasi-informasi yang diminta host tersebut. Bobi sampai setengah
menganga selama menonton acara itu. Gadis di layar itu tampak sangat
memerhatikan setiap kata yang dilontarkan lawan bicaranya, dan dia pun sangat
berhati-hati dalam memilih kata untuk menimpalinya. Namun, Bobi sama sekali tak
merasa benci. Ia justru merasa kasihan pada gadis yang menolak menunjukkan
dirinya yang sesungguhnya pada masyarakat.
****
Drama yang akan
ditampilkan dua minggu lagi ditetapkan harus bertema kehidupan sehari-hari oleh
Pak Udin, entah itu tentang sekolah, dunia kerja, ataupun rumah tangga. Dari
grup, Daniel telah menginfokan bahwa jadwal pertemuan untuk diskusi dialog dan
karakter tokoh pada hari Sabtu, sore hari. Waktu itu telah disepakati seluruh
anggota, kecuali Tasya yang banyak menjadi silent
reader jika tidak melihat namanya di-mention.
Bobi dan teman-temannya akan berkumpul di rumah Erika.
Namun begitu mereka
sudah di rumah gadis itu, satu orang tidak hadir, yaitu Tasya. Gadis itu
meninggalkan chat singkat saat di-mention oleh Daniel: ‘Nge-job.’
“Minta diapain sih nih
anak!” desis Daniel, mengacak-acak rambutnya tak sabar.
“Enak banget, dipikir
dia anak presiden gitu?! Anak presiden aja nggak segininya!” Erika mencemooh
dengan kesal, lalu duduk di lantai ruang tamunya yang sudah dialasi karpet
beludru.
Meski Yosie tak
mengatakan apa-apa, namun ia juga tampak kecewa.
“Udah nggak usah
kelamaan marahnya, dia kan memang artis mau gimana lagi. Jadwalnya pasti padat,
yang penting dia harus sudah bisa nguasain perannya, gitu aja,” Bobi berusaha
menenangkan teman-temannya. “Lagian ini kan baru diskusi dialog sama tokoh,
belum masuk latian. Biarin aja, gak apa.”
Suara lembut Bobi
berhasil meredam emosi teman-temannya. Daniel pun segera memimpin pembicaraan
tentang dialog dan tokoh-tokoh drama mereka. Sejujurnya, Bobi sendiri merasa
agak jengkel. Namun, melihat senyum Tasya beberapa hari yang lalu di TV, selain
merasa kasihan pada gadis yang harus memiliki topeng di kamera itu, Bobi juga
dapat melihat usaha kerasnya. Ia berusaha melawan keegoisan dan kata-kata kasarnya,
sehingga Bobi pun menghargainya, dan berusaha memakluminya.
Saat mereka berkumpul
yang kedua kalinya, untuk memasuki latihan pertama, diputuskan untuk mengambil
waktu tepat sepulang sekolah, sebagai taktik agar seluruh anggota hadir. Taktik
itu berhasil, Tasya meminta ibunya untuk datang setelah ia mengirimi chat lagi. Namun sial, meski hadir,
gadis itu justru molor di mejanya sendiri.
“Tas, Tasya,” Daniel
masih mencoba sabar dalam percobaan membangunkan yang pertama. Ia melakukannya
sambil menggoyang-goyang lengan gadis itu. Namun gagal. Dia justru mendengkur makin
keras, dan memunggungi teman-temannya.
Percobaan kedua diambil
alih oleh Yosie, karena Erika sudah lelah bertengkar dengan Tasya. Yosie, yang
biasanya kalem dan ramah, mengagetkan teman-temannya dengan tingkahnya saat
membangunkan artis di kelas mereka.
“TASYA! TASYA! Hei,
hei, hei, hei! Ini sekolah, bukan kamar tidur! Buka matamu! Buka matamu! Jangan
mau menyerah sama ngantuk! TASYA, NATASYA! Heelloooo, siiiaapaa dii
saaanaaa????!!!!”
Suaranya mengguncang
sekeliling bak pemandu sorak. Namun, ia juga gagal. Gadis yang mengenakan softlens biru keabuan itu masih
mendengkur.
“Yo-Yo-Yoooosiiiieee?!”
Bobi terpekik syok, lengkap dengan mulutnya terbuka selebar terowongan.
Yosie menoleh, menatap
polos. “Ka-ka-mu… Eh sori, boleh tahu zodiakmu apa?” tanya Bobi sambil
mengusap-usap ubun-ubunnya.
“Ooh? Aku Libra yang
selalu adil lhoo!!” sorak Yosie, memamerkan deretan giginya yang menambah kilau
senyumnya.
Kenyataan itu memukul
Bobi, telak di perutnya. Laki-laki itu merasa ada kepalan tangan bersarung
tinju tak terlihat yang menembus lambungnya.
ZONKDIAK.
Bobi yang tak pernah
melewatkan ramalan zodiak dari media apa pun, merasa tertipu oleh pribadi Yosie
sebelum mereka menginjak hari ini.
“LI! LIIIBRAAAAA?!”
lidah Bobi nyaris melompat saat melontarkannya. Suaranya memantul ke setiap
sudut, bergema bagaikan menggunakan toa. Secara spontan, Daniel, Yosie, dan
Erika mendorong telinganya dengan kedua telapak tangan.
Namun berkat itu, Tasya
justru terbangun. “SI-A-PA YANG BA-RU-SAN TE-RIAK HAH?! Mulut udah kayak knalpot
truk aja!” makinya, dengan cara pandang Pennywise.
****
Yosie
itu Libra?! Gila! Emang sih, aku pernah baca kalo libra itu bermuka dua! Sumpah?!
Kukira dia Taurus kayak aku lho!
Ya
ampun… Tapi, emang sih katanya pergaulan sama pengaruh lain bisa bawa
sifat-sifat zodiak lainnya ke satu orang, bener ya gitu? Kalo dari temen-temen
lainnya, kayaknya udah bener zodiaknya.
Tapi,
nggak ada salahnya juga kan ya? Ngecek dulu, zodiaknya mereka masing-masing
sebenernya apa. Biar tahu juga cara ngadepin mereka, ngeliat kecocokan juga
sampe mana.
Rasa syok mendorong
Bobi untuk mencari tahu zodiak masing-masing teman sekelompoknya. Agar tidak
terdengar aneh dengan menanyakannya langsung, Bobi membuat trik dengan share post ramalan zodiak hari ini. Mereka
memang sudah di rumah, tapi Bobi yakin, pada jam-jam memasuki kekuasaan bulan
ini, pasti teman-temannya belum sibuk apalagi tidur.
Erika: Waduh, harus jaga kesehatan nih? Emang sih
belakangan tenggorokanku agak nggak enak.
Daniel: Wkwkwk bener
banget Leo! Hmm, kira-kira siapa yang bakal pdkt ya? (emot nyengir)
Yosie: Duuh, kayaknya
Libra gak sabaran kemarin memang gara-gara temennya sih (emot ketawa nangis)
Tasya: Haah? Kayaknya
ada yang nyindir nih (emot marah)
Yosie: Memangnya kamu
zodiak apa, Tas? Kok sensitif banget sih?
Erika dan Daniel sama
sekali tidak memberi pukulan zonkdiak. Mereka benar-benar Leo dan Virgo, sama
seperti dugaan Bobi. Laki-laki itu bernapas lega, namun ia harap-harap cemas
karena Tasya sama sekali tak menggubris pertanyaan Yosie. Diluar dugaan, Yosie
sama sekali tak sungkan menyindir orang lain. Bobi mendesah, karena tak kunjung
ada respons dari Tasya. Ia memprediksi gadis itu berzodiak Scorpio, namun ia
juga gelisah jika perkiraannya salah. Laki-laki itu berguling-guling di tempat
tidurnya.
Karena mulai memasuki overthinking, Bobi buru-buru menghalaunya
dengan beralih mewarnai gambar original
character-nya yang belum diwarnai sedikit pun. Saat mulai mewarnai tangan
gambar itu, melesat di benak Bobi bahwa ada PR matematika yang harus
dikumpulkan besok. Ia mengecek buku latihannya, dan benar saja didapatinya
sepuluh soal matematika matriks.
****
Pertemuan untuk latihan
kedua drama mereka lagi-lagi harus dilewatkan oleh Tasya. Gadis itu
meninggalkan chat di grup bahwa ia
ada job lagi. Daniel dan Erika sudah
tak berkomentar banyak dan hanya membicarakannya sekilas.
“Kalo gini terus, apa
bisa dia lulus ke kelas tiga? Mana jadwalnya IPA padat banget, kok dia nggak
pilih home schooling aja sih?” desah
Erika, terdengar cemas sekaligus lelah.
“Ya mungkin aja dia
nggak suka home schooling,” Yosie
menimpali.
“Ya udah, pokoknya dia
tahu perannya dan bisa nguasain itu pas perform
nanti,” Daniel segera meraih naskah dialognya.
Tasya sama sekali tak
membalas chat Yosie kemarin, dan
sekarang tak muncul lagi saat kelompok bahasa Indonesia berkumpul. Latihan memang
berjalan lancar, namun meski Tasya sudah berakting dalam beberapa sinetron,
Bobi tetap merasa cemas.
Erika benar.
Kalau terus seperti
ini, entah kehidupan sekolah atau karirnya, salah satunya akan hancur dan
lenyap dari genggaman Tasya.
Seusai mereka berlatih,
Bobi yang paling terakhir meninggalkan kelas karena hari ini dia juga piket, dan
tadi pagi ia belum melakukan apa-apa sebelum bel masuk. Disapunya lantai kelas,
lalu merapikan kursi-kursi dan meja, baru ditariknya tas ransel dan melompat
keluar kelas. Parkiran sepeda hanya menyisakan satu kendaraan roda dua; sepeda
Bobi. Namun, ada sosok gadis berambut di bawah bahu dengan seragam sekolahnya,
dan punggungnya diselimuti tas ransel berwarna merah muda lembut.
Itu Tasya.
Dia duduk memunggungi
Bobi, tepat di bawah salah satu pohon sekitar situ. Melihat gadis itu, Bobi
sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia cemas, tapi juga sangat kesal
karena usaha kelompoknya menyatukan seluruh anggota sia-sia karena aktris dan
model itu.
“TASYA!!”
Bobi mengentak-entakkan
langkah, dan dengan cepat berdiri menghadap wajah gadis itu. Ia sudah kehabisan
kesabaran.
“Enak
banget yaa kamu! Udah nggak ikut bikin cerita sama dialog, latihan sering gak dateng
juga! Udah siap lulus nanti ngartis doang ya?! Udah nggak ngurus sama sekolahmu
lagi?” desis Bobi ketus. “Coba liat, kamu udah baca naskahnya apa belum, dialog
pertamamu praktekkin ayo! Jangan mentang-mentang bahasa Indonesia gampang, kamu
jadi ngeremehin. Mau jual muka biar dapet nilai bagus gitu? Ini bukan sekolah
abal-abal ya!”
Hening dan tanpa
respons.
Keheningan itu sudah
melahap lima menit di antara mereka.
Bobi yang bersedekap,
akhirnya terpancing untuk melihat wajah gadis yang sejak tadi menunduk itu. Ia yakin
akan menemukan wajah psikopat Anne Hatheway, dan caci maki berduri-duri
bagaikan kaktus, serta mungkin akan ditutup dengan tamparan ganas dari gadis
itu. Namun begitu Bobi melongok, dan menintip wajah gadis yang menunduk itu, ia
justru melihat air mata sudah menggenang di seluruh wajah Tasya. Mulai dari
mata, pipi, hidung, bibir, hingga dagu, bagian-bagian wajah gadis itu telah
diselimuti tangisan.
“Ta! TA-TA-TAS-TA-SYA?!”
Tasya menggosok-gosok
wajahnya. “Aku udah nggak kuat!
Aku nggak mau jadi artis! Kenapa sih?! Kenapa aku harus dibenci temen-temenku
gara-gara nurutin kemauannya keluarga?! Aku dikira sombong juga judes!”
Tasya
terisak-isak dan histeris.
Menangis
sekaligus marah.
“Kamu kenapa, Tas?”
bisik Bobi, dikerubungi rasa kasihan menghadapi gadis itu.
“Lho
kamu di sini toh, Tas?” seorang wanita muda dengan potongan rambut pendek
muncul. Ia tampak fresh dan sporty dengan T-shirt merah terang dan
celana putih tiga per empat.
“Kenapa?
Aku kebingungan lho waktu mamamu bilang kamu balik ke sekolah lagi, padahal dua
jam lagi ada iklan parfum kan,” sapa wanita itu tersenyum, seraya mendekati
Tasya. Dari yang Bobi amati, dia tampak benar-benar ramah dan sabar, sama
sekali tidak ada motif mengintimidasi terhadap Tasya.
“Maaf,
Mbak. Duuh, tadi ada barangku yang ketinggalan di kelas, terus temenku ini yang
kabarin aku jadi aku buru-buru balik lagi deh!”
Meski
Bobi sudah pernah melihat sandiwara Tasya di acara gosip, ia masih menganga seperti
orang tersambar petir melihat respons Tasya barusan. Gadis itu mendongak dengan
wajah sudah kering dari tangisan, senyum ramah dan riang, lidah yang agak
dijulurkan untuk menambah kesan innocent.
Pelan-pelan, Bobi mengamati tangan gadis itu yang disembunyikan di sebelah
roknya, dan memergoki selembar tisu sudah direnggutnya.
“Ya
udah, buruan yuk kita ke lokasi pengambilan gambar. Jangan sampe nanti terjebak
macet terus kita telat,” ajak wanita itu, tersenyum lembut dan berjalan
meninggalkan keduanya.
Sebelum
benar-benar pergi, Tasya menoleh pada Bobi dengan tatapan galaknya seperti
biasa. Matanya masih agak bengkak karena habis menangis.
“Sengaja
share posting-an zodiak gitu, kamu kira
aku gak tahu apa motifmu? Oke asal kamu tahu aja, zodiakku Pisces tahu!” bisik
Tasya ketus.
Saat
itu juga Bobi merasa sudah tersambar petir. Ia membeku beberapa menit sebelum
mengambil sepedanya.
ZONKDIAK.
Gadis
yang selalu bersikap seperti seorang Scorpio itu, rupanya berada di bawah
naungan zodiak paling cengeng dari kedua belas zodiak. Saat menuntun sepedanya
keluar gerbang sekolah, Bobi baru ingat, betapa bodoh dirinya yang tidak
mengecek tanggal lahir Tasya dengan mengaksesnya di internet. Dia artis, sudah
pasti informasi tentang dirinya akan tersebar di dunia maya. Bobi menghela
napas.
Entah
zonkdiak apa lagi yang menunggunya di hari-hari berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar