Kamis, 17 September 2020

ZONKDIAK 

Pagi itu, sekolah diawali dengan pelajaran bahasa Indonesia. Hari pertama belajar aktif saat tahun ajaran baru terasa tidak bersemangat. Murid-murid kelas XI IPA-1 sudah harus memulai tugas kelompok: membuat drama. Pak Udin baru saja mengumumkan pembagian kelompok, lengkap dengan nama tiap ketua dan para anggotanya. Satu kelompok diisi lima orang anggota sudah termasuk ketua.

Bobi memerhatikan sosok-sosok yang duduk melingkar bersamanya. Jika melihat dari gaya bicara Daniel, sang ketua, Bobi menyimpulkan bahwa dia adalah seorang Leo. Pemimpin yang agresif dan penuh semangat, beberapa kali membicarakan tentang kemampuan bersandiwaranya (Bobi merasa orang itu sedang pamer), dan sulit menyetujui usulan dari lawan bicaranya. Ia juga tampak tak segan bicara banyak dengan orang yang belum terlalu dikenalnya.

Berikutnya Erika, gadis yang menjadi lawan bicara Daniel. Bobi yakin gadis ini di bawah naungan zodiak Virgo. Penampilannya tidak mencolok, namun sangat rapi, dengan potongan rambut sebahu yang pas, dan kuku yang ditata dengan sangat baik meski tidak dicat. Ia sudah berkomentar cukup banyak pada Daniel tentang pemikirannya: tema dan judul drama, karakter yang akan kami perankan, perkiraan kostum yang harus dikenakan tiap tokoh, dan sebagainya, hingga terdengar sudah mendetail. Dia memang lawan bicara yang tepat bagi ketua kami. Argumennya kuat, dan dia sangat serius dalam mempertahankannya.

Di samping Erika ada Yosie, gadis berambut pendek dengan kacamata kotak yang sangat pas membingkai bola matanya yang kecil. Dia sangat kalem, tidak banyak bicara, tapi selalu tersenyum setiap ada yang menyapanya, dengan tatapan yang ramah. Yosie memancarkan keanggunan yang menyejukkan. Bobi berani bertaruh, bahwa gadis itu berzodiak Taurus, sama dengannya. Pembawaannya tenang, namun juga mampu menyuguhkan keramahan yang hangat.

Berpindah pada gadis artis yang menjadi pusat perhatian dan pembicaraan di kelas Bobi, Tasya. Pasti akan lebih enak dipandang jika minimal dia duduk diam meski tidak bicara apa pun. Namun, gadis itu sangat parah. Dia tidur dengan posisi duduk, dan telinganya disumbat oleh earphone biru. Bobi sudah melihatnya saat hari pertama memasuki kelas sebelas, dan ia tak bisa membantah jika dibuat kagum oleh penampilan Tasya. Bola mata sebulat Anne Hatheway, rambut melewati bahu yang seindah sutra, dan bibir mungil dengan warna merah muda pucat yang memberi nuansa imut, pada wajahnya yang diukir dengan cantik.

Tasya hanya akan melepas earphone-nya jika diajak bicara seseorang. Orang itu harus menyentuhnya, karena dia benar-benar tidak dengar meski ada orang berteriak-teriak tepat di sebelah telinganya. Tampak bosan, egois, cuek, dan tidak berminat dengan sekolah. Bobi sangat yakin ia tidak akan cocok dengan Tasya. Dia tidak pernah memiliki pengalaman yang menyenangkan dengan gadis cantik. Ia bahkan tidak pernah memiliki teman dekat seorang gadis populer, terutama yang tampak jelas keegoisan dan ketidakpeduliannya pada sekitar.

Guys,” suara lantang Daniel menjadi magnet. Teman-teman satu kelompoknya menoleh, kecuali Tasya. “Pak Udin tadi bilang, hari ini kita diskusi singkat aja. Nah, dua minggu lagi kan kita udah harus perform dramanya, jadi masalah tema, judul, dialog, jalan cerita sama tokohnya kita omongin di grup chat aja ya nanti. Erika udah bikin daftar line, kalian isi dulu ya.”

Mendadak, Daniel memberi isyarat pada Bobi. Ia menyuruh laki-laki berkacamata itu memberitahu Tasya, yang duduk di sebelahnya, bahwa mereka harus mengisi nama akun line masing-masing untuk membuat grup. Bobi menolak. Ia menggeleng, sama sekali tak sungkan, bahkan meski ketua kelompoknya yang menyuruh. Daniel memaksa. Dibuatnya ekspresi mengancam, dan Bobi terpaksa mengalah karena tak enak pada anggota yang lain jika sampai melihat pembicaraan serba isyarat dua orang itu.

“Tas, Tasya,” diketuknya perlahan lengan gadis itu dengan jari telunjuk. Tasya melepas earphone-nya, dan menoleh pada Bobi. “Kita mau bikin grup chat—”

“Hei Jojon! Berani banget ya kamu megang-megang aku, udah dipikir belum tanganmu bersih apa nggak?” tukas gadis itu, dengan suara ketus. “Jangan-jangan banyak kumannya yang bisa bikin nular kebegoanmu lagi! Kacamata setebel pantat botol gitu enak banget manggil-manggil aku!”

Dalam lingkaran kelompok itu meletus sebuah tembakan suar dalam kepala tiap anggotanya. Kecuali Bobi dan Yosie, yang hanya melongo.

“Woi, Tasya! Lu pikir yang butuh bikin grup chat cuma kita hah?! Lu bukan murid gitu?!” semprot Daniel, yang merasa mulut Tasya sudah kelewatan.

“Haah? Ngapain kamu ikut-ikut? Cowok kebanyakan bacot kayak kamu gak pantes jadi ketua tahu! Nasib beruntung aja ngesok,” balas Tasya dengan ekspresi merendahkan.

Erika pun angkat bicara. “Mulutnya dijaga ya, Tas. Kamu itu memang artis, tapi kamu juga sekolah kan di sini? Posisi kita sebagai murid sejajar lho!”

Mereka menghabiskan lima menit terakhir sebelum istirahat untuk bertengkar, dan begitu bel berbunyi ketiganya berpisah dalam suasana yang keruh. Namun sebelum melangkahkan kaki ke kantin, Tasya menyambar kertas daftar akun line yang dipegang Bobi dan mengisi nomor terakhir. Ia sama sekali tak mengatakan apa pun, lalu pergi begitu saja.

Bobi menghela napas panjang. Sepertinya ia satu kelompok dengan gadis Scorpio yang menyebalkan.

****

“Tasya Scorpio? Terus kenapa?” tanya Aldo, sahabat Bobi yang pebasket andalan, memasang tampang heran.

Sebelum menjawab, Bobi teringat oleh sosok Tasya, gadis cuek yang berlidah tajam dan kasar. Kemudian dipandangnya lurus sahabatnya, yang menenggak coca cola kaleng. “Lidahnya susah dijaga, semaunya sendiri, nggak punya sopan-santun kayaknya. Pasti kelompokku bakal banyak ributnya pas kumpul nanti.”

“Hmm, bisa jadi,” Aldo sama sekali tak membantah. “Tapi aku agak syok denger ceritamu soal dia adu mulut sama Daniel sama Erika. Beneran ya?”

Bobi cemberut. “Kok jadi curiga gitu? Kamu kira aku bohong?”

Aldo menggeleng sambil nyengir. “Nggak gitu, tapi masih susah percaya aja. Bukan karna omonganmu, tapi Tasya-nya. Aneh banget gitu, kamu pernah liat dia di TV nggak? Dia bisa riang banget, banyak senyum, bisa ketawa sama pembawa acara, terus keliatan ramah dan santun banget gitu.”

“Jangan bilang kamu nontonnya setengah tidur,” ledek Bobi tak percaya.

“Lho, sungguan Bob,” pandangan Aldo berubah kesal. “Hari ini harusnya dia bakal muncul lagi di acara gosip sih. Dia digosipin pacaran sama atlet bulu tangkis, tapi kemarin dia diundangnya buat ngomongin film barunya. Aku liat iklannya hari ini dia bakal ngasih klarifikasi buat gosip itu sih, jam lima nanti.”

Bobi sama sekali tak takut menerima tantangan Aldo itu. Ia akan memastikan sendiri, apakah sosok Tasya di kamera benar-benar sama seperti yang diceritakan sahabatnya itu. Sepulang sekolah, Bobi mengatur alarm ponselnya pukul 17.00 WIB. Sebelum acara gosip itu mulai, Bobi menghabiskan waktu dengan menggambar original character-nya dengan ibis Paint, ngemil oreo, tiduran sambil main game di HP, lalu akhirnya menjeritlah alarmnya. Laki-laki berambut mirip Jojon itu segera melompat ke ruang tamu dan meraih remote TV.

Ia menyetel channel yang dikatakan Aldo, dan benar-benar mendapati sosok Tasya. Dia tampak lebih cantik dan mencolok. Gadis itu mengenakan crop top putih dengan tulisan brand atasan itu, dipasangkan dengan rok high waist hitam pendek gaya Korea. Rambutnya dikeriting halus untuk membuat kesan imut.

[Jadi bener gak sih, Tasya itu pacaran sama si A yang pebulu tangkis itu? Banyak yang liat kalian sering jalan bareng, terus pernah juga Tasya keluar dari mobil dia ya?]

Nada bertanya host itu menggebu-gebu.

Dengan senyum lembut dan gesture tenang, Tasya menjawab.

[Nggak kok, kami cuma temen satu job. Jadi, sebenernya kami bakal muncul di iklan produk cookies terbaru keluarannya Y. Merk itu mau ngeluarin produk baru, nah kami direkrut buat iklan promosi mereka.]

Bobi nyaris menahan napas saking tak percayanya.

Itu Tasya.

Natasya Cindy Rahardjo yang satu kelas dengannya, teman sekelompok yang baru tadi pagi membentaknya dengan kata-kata setajam pisau. Kacamata Bobi sampai melorot, dan laki-laki itu baru menyadarinya.

[Oooh bakal ngeluarin cookies?! Rasa apa tuh? Bisa cerita dikit garis besar iklannya kayak gimana?]

Dengan suara anggun dan penuh kesabaran, Tasya menjelaskan informasi-informasi yang diminta host tersebut. Bobi sampai setengah menganga selama menonton acara itu. Gadis di layar itu tampak sangat memerhatikan setiap kata yang dilontarkan lawan bicaranya, dan dia pun sangat berhati-hati dalam memilih kata untuk menimpalinya. Namun, Bobi sama sekali tak merasa benci. Ia justru merasa kasihan pada gadis yang menolak menunjukkan dirinya yang sesungguhnya pada masyarakat.

****

Drama yang akan ditampilkan dua minggu lagi ditetapkan harus bertema kehidupan sehari-hari oleh Pak Udin, entah itu tentang sekolah, dunia kerja, ataupun rumah tangga. Dari grup, Daniel telah menginfokan bahwa jadwal pertemuan untuk diskusi dialog dan karakter tokoh pada hari Sabtu, sore hari. Waktu itu telah disepakati seluruh anggota, kecuali Tasya yang banyak menjadi silent reader jika tidak melihat namanya di-mention. Bobi dan teman-temannya akan berkumpul di rumah Erika.

Namun begitu mereka sudah di rumah gadis itu, satu orang tidak hadir, yaitu Tasya. Gadis itu meninggalkan chat singkat saat di-mention oleh Daniel: ‘Nge-job.

“Minta diapain sih nih anak!” desis Daniel, mengacak-acak rambutnya tak sabar.

“Enak banget, dipikir dia anak presiden gitu?! Anak presiden aja nggak segininya!” Erika mencemooh dengan kesal, lalu duduk di lantai ruang tamunya yang sudah dialasi karpet beludru.

Meski Yosie tak mengatakan apa-apa, namun ia juga tampak kecewa.

“Udah nggak usah kelamaan marahnya, dia kan memang artis mau gimana lagi. Jadwalnya pasti padat, yang penting dia harus sudah bisa nguasain perannya, gitu aja,” Bobi berusaha menenangkan teman-temannya. “Lagian ini kan baru diskusi dialog sama tokoh, belum masuk latian. Biarin aja, gak apa.”

Suara lembut Bobi berhasil meredam emosi teman-temannya. Daniel pun segera memimpin pembicaraan tentang dialog dan tokoh-tokoh drama mereka. Sejujurnya, Bobi sendiri merasa agak jengkel. Namun, melihat senyum Tasya beberapa hari yang lalu di TV, selain merasa kasihan pada gadis yang harus memiliki topeng di kamera itu, Bobi juga dapat melihat usaha kerasnya. Ia berusaha melawan keegoisan dan kata-kata kasarnya, sehingga Bobi pun menghargainya, dan berusaha memakluminya.

Saat mereka berkumpul yang kedua kalinya, untuk memasuki latihan pertama, diputuskan untuk mengambil waktu tepat sepulang sekolah, sebagai taktik agar seluruh anggota hadir. Taktik itu berhasil, Tasya meminta ibunya untuk datang setelah ia mengirimi chat lagi. Namun sial, meski hadir, gadis itu justru molor di mejanya sendiri.

“Tas, Tasya,” Daniel masih mencoba sabar dalam percobaan membangunkan yang pertama. Ia melakukannya sambil menggoyang-goyang lengan gadis itu. Namun gagal. Dia justru mendengkur makin keras, dan memunggungi teman-temannya.

Percobaan kedua diambil alih oleh Yosie, karena Erika sudah lelah bertengkar dengan Tasya. Yosie, yang biasanya kalem dan ramah, mengagetkan teman-temannya dengan tingkahnya saat membangunkan artis di kelas mereka.

“TASYA! TASYA! Hei, hei, hei, hei! Ini sekolah, bukan kamar tidur! Buka matamu! Buka matamu! Jangan mau menyerah sama ngantuk! TASYA, NATASYA! Heelloooo, siiiaapaa dii saaanaaa????!!!!”

Suaranya mengguncang sekeliling bak pemandu sorak. Namun, ia juga gagal. Gadis yang mengenakan softlens biru keabuan itu masih mendengkur.

“Yo-Yo-Yoooosiiiieee?!” Bobi terpekik syok, lengkap dengan mulutnya terbuka selebar terowongan.

Yosie menoleh, menatap polos. “Ka-ka-mu… Eh sori, boleh tahu zodiakmu apa?” tanya Bobi sambil mengusap-usap ubun-ubunnya.

“Ooh? Aku Libra yang selalu adil lhoo!!” sorak Yosie, memamerkan deretan giginya yang menambah kilau senyumnya.

Kenyataan itu memukul Bobi, telak di perutnya. Laki-laki itu merasa ada kepalan tangan bersarung tinju tak terlihat yang menembus lambungnya.

ZONKDIAK.

Bobi yang tak pernah melewatkan ramalan zodiak dari media apa pun, merasa tertipu oleh pribadi Yosie sebelum mereka menginjak hari ini.

“LI! LIIIBRAAAAA?!” lidah Bobi nyaris melompat saat melontarkannya. Suaranya memantul ke setiap sudut, bergema bagaikan menggunakan toa. Secara spontan, Daniel, Yosie, dan Erika mendorong telinganya dengan kedua telapak tangan.

Namun berkat itu, Tasya justru terbangun. “SI-A-PA YANG BA-RU-SAN TE-RIAK HAH?! Mulut udah kayak knalpot truk aja!” makinya, dengan cara pandang Pennywise.

****

Yosie itu Libra?! Gila! Emang sih, aku pernah baca kalo libra itu bermuka dua! Sumpah?! Kukira dia Taurus kayak aku lho!

Ya ampun… Tapi, emang sih katanya pergaulan sama pengaruh lain bisa bawa sifat-sifat zodiak lainnya ke satu orang, bener ya gitu? Kalo dari temen-temen lainnya, kayaknya udah bener zodiaknya.

Tapi, nggak ada salahnya juga kan ya? Ngecek dulu, zodiaknya mereka masing-masing sebenernya apa. Biar tahu juga cara ngadepin mereka, ngeliat kecocokan juga sampe mana.

Rasa syok mendorong Bobi untuk mencari tahu zodiak masing-masing teman sekelompoknya. Agar tidak terdengar aneh dengan menanyakannya langsung, Bobi membuat trik dengan share post ramalan zodiak hari ini. Mereka memang sudah di rumah, tapi Bobi yakin, pada jam-jam memasuki kekuasaan bulan ini, pasti teman-temannya belum sibuk apalagi tidur.

 

Erika:  Waduh, harus jaga kesehatan nih? Emang sih belakangan tenggorokanku agak nggak enak.

Daniel: Wkwkwk bener banget Leo! Hmm, kira-kira siapa yang bakal pdkt ya? (emot nyengir)

Yosie: Duuh, kayaknya Libra gak sabaran kemarin memang gara-gara temennya sih (emot ketawa nangis)

Tasya: Haah? Kayaknya ada yang nyindir nih (emot marah)

Yosie: Memangnya kamu zodiak apa, Tas? Kok sensitif banget sih?

 

Erika dan Daniel sama sekali tidak memberi pukulan zonkdiak. Mereka benar-benar Leo dan Virgo, sama seperti dugaan Bobi. Laki-laki itu bernapas lega, namun ia harap-harap cemas karena Tasya sama sekali tak menggubris pertanyaan Yosie. Diluar dugaan, Yosie sama sekali tak sungkan menyindir orang lain. Bobi mendesah, karena tak kunjung ada respons dari Tasya. Ia memprediksi gadis itu berzodiak Scorpio, namun ia juga gelisah jika perkiraannya salah. Laki-laki itu berguling-guling di tempat tidurnya.

Karena mulai memasuki overthinking, Bobi buru-buru menghalaunya dengan beralih mewarnai gambar original character-nya yang belum diwarnai sedikit pun. Saat mulai mewarnai tangan gambar itu, melesat di benak Bobi bahwa ada PR matematika yang harus dikumpulkan besok. Ia mengecek buku latihannya, dan benar saja didapatinya sepuluh soal matematika matriks.

****

Pertemuan untuk latihan kedua drama mereka lagi-lagi harus dilewatkan oleh Tasya. Gadis itu meninggalkan chat di grup bahwa ia ada job lagi. Daniel dan Erika sudah tak berkomentar banyak dan hanya membicarakannya sekilas.

“Kalo gini terus, apa bisa dia lulus ke kelas tiga? Mana jadwalnya IPA padat banget, kok dia nggak pilih home schooling aja sih?” desah Erika, terdengar cemas sekaligus lelah.

“Ya mungkin aja dia nggak suka home schooling,” Yosie menimpali.

“Ya udah, pokoknya dia tahu perannya dan bisa nguasain itu pas perform nanti,” Daniel segera meraih naskah dialognya.

Tasya sama sekali tak membalas chat Yosie kemarin, dan sekarang tak muncul lagi saat kelompok bahasa Indonesia berkumpul. Latihan memang berjalan lancar, namun meski Tasya sudah berakting dalam beberapa sinetron, Bobi tetap merasa cemas.

Erika benar.

Kalau terus seperti ini, entah kehidupan sekolah atau karirnya, salah satunya akan hancur dan lenyap dari genggaman Tasya.

Seusai mereka berlatih, Bobi yang paling terakhir meninggalkan kelas karena hari ini dia juga piket, dan tadi pagi ia belum melakukan apa-apa sebelum bel masuk. Disapunya lantai kelas, lalu merapikan kursi-kursi dan meja, baru ditariknya tas ransel dan melompat keluar kelas. Parkiran sepeda hanya menyisakan satu kendaraan roda dua; sepeda Bobi. Namun, ada sosok gadis berambut di bawah bahu dengan seragam sekolahnya, dan punggungnya diselimuti tas ransel berwarna merah muda lembut.

Itu Tasya.

Dia duduk memunggungi Bobi, tepat di bawah salah satu pohon sekitar situ. Melihat gadis itu, Bobi sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia cemas, tapi juga sangat kesal karena usaha kelompoknya menyatukan seluruh anggota sia-sia karena aktris dan model itu.

“TASYA!!”

Bobi mengentak-entakkan langkah, dan dengan cepat berdiri menghadap wajah gadis itu. Ia sudah kehabisan kesabaran.

“Enak banget yaa kamu! Udah nggak ikut bikin cerita sama dialog, latihan sering gak dateng juga! Udah siap lulus nanti ngartis doang ya?! Udah nggak ngurus sama sekolahmu lagi?” desis Bobi ketus. “Coba liat, kamu udah baca naskahnya apa belum, dialog pertamamu praktekkin ayo! Jangan mentang-mentang bahasa Indonesia gampang, kamu jadi ngeremehin. Mau jual muka biar dapet nilai bagus gitu? Ini bukan sekolah abal-abal ya!”

Hening dan tanpa respons.

Keheningan itu sudah melahap lima menit di antara mereka.

Bobi yang bersedekap, akhirnya terpancing untuk melihat wajah gadis yang sejak tadi menunduk itu. Ia yakin akan menemukan wajah psikopat Anne Hatheway, dan caci maki berduri-duri bagaikan kaktus, serta mungkin akan ditutup dengan tamparan ganas dari gadis itu. Namun begitu Bobi melongok, dan menintip wajah gadis yang menunduk itu, ia justru melihat air mata sudah menggenang di seluruh wajah Tasya. Mulai dari mata, pipi, hidung, bibir, hingga dagu, bagian-bagian wajah gadis itu telah diselimuti tangisan.

“Ta! TA-TA-TAS-TA-SYA?!”

Tasya menggosok-gosok wajahnya. “Aku udah nggak kuat! Aku nggak mau jadi artis! Kenapa sih?! Kenapa aku harus dibenci temen-temenku gara-gara nurutin kemauannya keluarga?! Aku dikira sombong juga judes!”

Tasya terisak-isak dan histeris.

Menangis sekaligus marah.

“Kamu kenapa, Tas?” bisik Bobi, dikerubungi rasa kasihan menghadapi gadis itu.

“Lho kamu di sini toh, Tas?” seorang wanita muda dengan potongan rambut pendek muncul. Ia tampak fresh dan sporty dengan T-shirt merah terang dan celana putih tiga per empat.

“Kenapa? Aku kebingungan lho waktu mamamu bilang kamu balik ke sekolah lagi, padahal dua jam lagi ada iklan parfum kan,” sapa wanita itu tersenyum, seraya mendekati Tasya. Dari yang Bobi amati, dia tampak benar-benar ramah dan sabar, sama sekali tidak ada motif mengintimidasi terhadap Tasya.

“Maaf, Mbak. Duuh, tadi ada barangku yang ketinggalan di kelas, terus temenku ini yang kabarin aku jadi aku buru-buru balik lagi deh!”

Meski Bobi sudah pernah melihat sandiwara Tasya di acara gosip, ia masih menganga seperti orang tersambar petir melihat respons Tasya barusan. Gadis itu mendongak dengan wajah sudah kering dari tangisan, senyum ramah dan riang, lidah yang agak dijulurkan untuk menambah kesan innocent. Pelan-pelan, Bobi mengamati tangan gadis itu yang disembunyikan di sebelah roknya, dan memergoki selembar tisu sudah direnggutnya.

“Ya udah, buruan yuk kita ke lokasi pengambilan gambar. Jangan sampe nanti terjebak macet terus kita telat,” ajak wanita itu, tersenyum lembut dan berjalan meninggalkan keduanya.

Sebelum benar-benar pergi, Tasya menoleh pada Bobi dengan tatapan galaknya seperti biasa. Matanya masih agak bengkak karena habis menangis.

“Sengaja share posting-an zodiak gitu, kamu kira aku gak tahu apa motifmu? Oke asal kamu tahu aja, zodiakku Pisces tahu!” bisik Tasya ketus.

Saat itu juga Bobi merasa sudah tersambar petir. Ia membeku beberapa menit sebelum mengambil sepedanya.

ZONKDIAK.

Gadis yang selalu bersikap seperti seorang Scorpio itu, rupanya berada di bawah naungan zodiak paling cengeng dari kedua belas zodiak. Saat menuntun sepedanya keluar gerbang sekolah, Bobi baru ingat, betapa bodoh dirinya yang tidak mengecek tanggal lahir Tasya dengan mengaksesnya di internet. Dia artis, sudah pasti informasi tentang dirinya akan tersebar di dunia maya. Bobi menghela napas.

Entah zonkdiak apa lagi yang menunggunya di hari-hari berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar