Kamis, 17 September 2020

ZONKDIAK 

Pagi itu, sekolah diawali dengan pelajaran bahasa Indonesia. Hari pertama belajar aktif saat tahun ajaran baru terasa tidak bersemangat. Murid-murid kelas XI IPA-1 sudah harus memulai tugas kelompok: membuat drama. Pak Udin baru saja mengumumkan pembagian kelompok, lengkap dengan nama tiap ketua dan para anggotanya. Satu kelompok diisi lima orang anggota sudah termasuk ketua.

Bobi memerhatikan sosok-sosok yang duduk melingkar bersamanya. Jika melihat dari gaya bicara Daniel, sang ketua, Bobi menyimpulkan bahwa dia adalah seorang Leo. Pemimpin yang agresif dan penuh semangat, beberapa kali membicarakan tentang kemampuan bersandiwaranya (Bobi merasa orang itu sedang pamer), dan sulit menyetujui usulan dari lawan bicaranya. Ia juga tampak tak segan bicara banyak dengan orang yang belum terlalu dikenalnya.

Berikutnya Erika, gadis yang menjadi lawan bicara Daniel. Bobi yakin gadis ini di bawah naungan zodiak Virgo. Penampilannya tidak mencolok, namun sangat rapi, dengan potongan rambut sebahu yang pas, dan kuku yang ditata dengan sangat baik meski tidak dicat. Ia sudah berkomentar cukup banyak pada Daniel tentang pemikirannya: tema dan judul drama, karakter yang akan kami perankan, perkiraan kostum yang harus dikenakan tiap tokoh, dan sebagainya, hingga terdengar sudah mendetail. Dia memang lawan bicara yang tepat bagi ketua kami. Argumennya kuat, dan dia sangat serius dalam mempertahankannya.

Di samping Erika ada Yosie, gadis berambut pendek dengan kacamata kotak yang sangat pas membingkai bola matanya yang kecil. Dia sangat kalem, tidak banyak bicara, tapi selalu tersenyum setiap ada yang menyapanya, dengan tatapan yang ramah. Yosie memancarkan keanggunan yang menyejukkan. Bobi berani bertaruh, bahwa gadis itu berzodiak Taurus, sama dengannya. Pembawaannya tenang, namun juga mampu menyuguhkan keramahan yang hangat.

Berpindah pada gadis artis yang menjadi pusat perhatian dan pembicaraan di kelas Bobi, Tasya. Pasti akan lebih enak dipandang jika minimal dia duduk diam meski tidak bicara apa pun. Namun, gadis itu sangat parah. Dia tidur dengan posisi duduk, dan telinganya disumbat oleh earphone biru. Bobi sudah melihatnya saat hari pertama memasuki kelas sebelas, dan ia tak bisa membantah jika dibuat kagum oleh penampilan Tasya. Bola mata sebulat Anne Hatheway, rambut melewati bahu yang seindah sutra, dan bibir mungil dengan warna merah muda pucat yang memberi nuansa imut, pada wajahnya yang diukir dengan cantik.

Tasya hanya akan melepas earphone-nya jika diajak bicara seseorang. Orang itu harus menyentuhnya, karena dia benar-benar tidak dengar meski ada orang berteriak-teriak tepat di sebelah telinganya. Tampak bosan, egois, cuek, dan tidak berminat dengan sekolah. Bobi sangat yakin ia tidak akan cocok dengan Tasya. Dia tidak pernah memiliki pengalaman yang menyenangkan dengan gadis cantik. Ia bahkan tidak pernah memiliki teman dekat seorang gadis populer, terutama yang tampak jelas keegoisan dan ketidakpeduliannya pada sekitar.

Guys,” suara lantang Daniel menjadi magnet. Teman-teman satu kelompoknya menoleh, kecuali Tasya. “Pak Udin tadi bilang, hari ini kita diskusi singkat aja. Nah, dua minggu lagi kan kita udah harus perform dramanya, jadi masalah tema, judul, dialog, jalan cerita sama tokohnya kita omongin di grup chat aja ya nanti. Erika udah bikin daftar line, kalian isi dulu ya.”

Mendadak, Daniel memberi isyarat pada Bobi. Ia menyuruh laki-laki berkacamata itu memberitahu Tasya, yang duduk di sebelahnya, bahwa mereka harus mengisi nama akun line masing-masing untuk membuat grup. Bobi menolak. Ia menggeleng, sama sekali tak sungkan, bahkan meski ketua kelompoknya yang menyuruh. Daniel memaksa. Dibuatnya ekspresi mengancam, dan Bobi terpaksa mengalah karena tak enak pada anggota yang lain jika sampai melihat pembicaraan serba isyarat dua orang itu.

“Tas, Tasya,” diketuknya perlahan lengan gadis itu dengan jari telunjuk. Tasya melepas earphone-nya, dan menoleh pada Bobi. “Kita mau bikin grup chat—”

“Hei Jojon! Berani banget ya kamu megang-megang aku, udah dipikir belum tanganmu bersih apa nggak?” tukas gadis itu, dengan suara ketus. “Jangan-jangan banyak kumannya yang bisa bikin nular kebegoanmu lagi! Kacamata setebel pantat botol gitu enak banget manggil-manggil aku!”

Dalam lingkaran kelompok itu meletus sebuah tembakan suar dalam kepala tiap anggotanya. Kecuali Bobi dan Yosie, yang hanya melongo.

“Woi, Tasya! Lu pikir yang butuh bikin grup chat cuma kita hah?! Lu bukan murid gitu?!” semprot Daniel, yang merasa mulut Tasya sudah kelewatan.

“Haah? Ngapain kamu ikut-ikut? Cowok kebanyakan bacot kayak kamu gak pantes jadi ketua tahu! Nasib beruntung aja ngesok,” balas Tasya dengan ekspresi merendahkan.

Erika pun angkat bicara. “Mulutnya dijaga ya, Tas. Kamu itu memang artis, tapi kamu juga sekolah kan di sini? Posisi kita sebagai murid sejajar lho!”

Mereka menghabiskan lima menit terakhir sebelum istirahat untuk bertengkar, dan begitu bel berbunyi ketiganya berpisah dalam suasana yang keruh. Namun sebelum melangkahkan kaki ke kantin, Tasya menyambar kertas daftar akun line yang dipegang Bobi dan mengisi nomor terakhir. Ia sama sekali tak mengatakan apa pun, lalu pergi begitu saja.

Bobi menghela napas panjang. Sepertinya ia satu kelompok dengan gadis Scorpio yang menyebalkan.

****

“Tasya Scorpio? Terus kenapa?” tanya Aldo, sahabat Bobi yang pebasket andalan, memasang tampang heran.

Sebelum menjawab, Bobi teringat oleh sosok Tasya, gadis cuek yang berlidah tajam dan kasar. Kemudian dipandangnya lurus sahabatnya, yang menenggak coca cola kaleng. “Lidahnya susah dijaga, semaunya sendiri, nggak punya sopan-santun kayaknya. Pasti kelompokku bakal banyak ributnya pas kumpul nanti.”

“Hmm, bisa jadi,” Aldo sama sekali tak membantah. “Tapi aku agak syok denger ceritamu soal dia adu mulut sama Daniel sama Erika. Beneran ya?”

Bobi cemberut. “Kok jadi curiga gitu? Kamu kira aku bohong?”

Aldo menggeleng sambil nyengir. “Nggak gitu, tapi masih susah percaya aja. Bukan karna omonganmu, tapi Tasya-nya. Aneh banget gitu, kamu pernah liat dia di TV nggak? Dia bisa riang banget, banyak senyum, bisa ketawa sama pembawa acara, terus keliatan ramah dan santun banget gitu.”

“Jangan bilang kamu nontonnya setengah tidur,” ledek Bobi tak percaya.

“Lho, sungguan Bob,” pandangan Aldo berubah kesal. “Hari ini harusnya dia bakal muncul lagi di acara gosip sih. Dia digosipin pacaran sama atlet bulu tangkis, tapi kemarin dia diundangnya buat ngomongin film barunya. Aku liat iklannya hari ini dia bakal ngasih klarifikasi buat gosip itu sih, jam lima nanti.”

Bobi sama sekali tak takut menerima tantangan Aldo itu. Ia akan memastikan sendiri, apakah sosok Tasya di kamera benar-benar sama seperti yang diceritakan sahabatnya itu. Sepulang sekolah, Bobi mengatur alarm ponselnya pukul 17.00 WIB. Sebelum acara gosip itu mulai, Bobi menghabiskan waktu dengan menggambar original character-nya dengan ibis Paint, ngemil oreo, tiduran sambil main game di HP, lalu akhirnya menjeritlah alarmnya. Laki-laki berambut mirip Jojon itu segera melompat ke ruang tamu dan meraih remote TV.

Ia menyetel channel yang dikatakan Aldo, dan benar-benar mendapati sosok Tasya. Dia tampak lebih cantik dan mencolok. Gadis itu mengenakan crop top putih dengan tulisan brand atasan itu, dipasangkan dengan rok high waist hitam pendek gaya Korea. Rambutnya dikeriting halus untuk membuat kesan imut.

[Jadi bener gak sih, Tasya itu pacaran sama si A yang pebulu tangkis itu? Banyak yang liat kalian sering jalan bareng, terus pernah juga Tasya keluar dari mobil dia ya?]

Nada bertanya host itu menggebu-gebu.

Dengan senyum lembut dan gesture tenang, Tasya menjawab.

[Nggak kok, kami cuma temen satu job. Jadi, sebenernya kami bakal muncul di iklan produk cookies terbaru keluarannya Y. Merk itu mau ngeluarin produk baru, nah kami direkrut buat iklan promosi mereka.]

Bobi nyaris menahan napas saking tak percayanya.

Itu Tasya.

Natasya Cindy Rahardjo yang satu kelas dengannya, teman sekelompok yang baru tadi pagi membentaknya dengan kata-kata setajam pisau. Kacamata Bobi sampai melorot, dan laki-laki itu baru menyadarinya.

[Oooh bakal ngeluarin cookies?! Rasa apa tuh? Bisa cerita dikit garis besar iklannya kayak gimana?]

Dengan suara anggun dan penuh kesabaran, Tasya menjelaskan informasi-informasi yang diminta host tersebut. Bobi sampai setengah menganga selama menonton acara itu. Gadis di layar itu tampak sangat memerhatikan setiap kata yang dilontarkan lawan bicaranya, dan dia pun sangat berhati-hati dalam memilih kata untuk menimpalinya. Namun, Bobi sama sekali tak merasa benci. Ia justru merasa kasihan pada gadis yang menolak menunjukkan dirinya yang sesungguhnya pada masyarakat.

****

Drama yang akan ditampilkan dua minggu lagi ditetapkan harus bertema kehidupan sehari-hari oleh Pak Udin, entah itu tentang sekolah, dunia kerja, ataupun rumah tangga. Dari grup, Daniel telah menginfokan bahwa jadwal pertemuan untuk diskusi dialog dan karakter tokoh pada hari Sabtu, sore hari. Waktu itu telah disepakati seluruh anggota, kecuali Tasya yang banyak menjadi silent reader jika tidak melihat namanya di-mention. Bobi dan teman-temannya akan berkumpul di rumah Erika.

Namun begitu mereka sudah di rumah gadis itu, satu orang tidak hadir, yaitu Tasya. Gadis itu meninggalkan chat singkat saat di-mention oleh Daniel: ‘Nge-job.

“Minta diapain sih nih anak!” desis Daniel, mengacak-acak rambutnya tak sabar.

“Enak banget, dipikir dia anak presiden gitu?! Anak presiden aja nggak segininya!” Erika mencemooh dengan kesal, lalu duduk di lantai ruang tamunya yang sudah dialasi karpet beludru.

Meski Yosie tak mengatakan apa-apa, namun ia juga tampak kecewa.

“Udah nggak usah kelamaan marahnya, dia kan memang artis mau gimana lagi. Jadwalnya pasti padat, yang penting dia harus sudah bisa nguasain perannya, gitu aja,” Bobi berusaha menenangkan teman-temannya. “Lagian ini kan baru diskusi dialog sama tokoh, belum masuk latian. Biarin aja, gak apa.”

Suara lembut Bobi berhasil meredam emosi teman-temannya. Daniel pun segera memimpin pembicaraan tentang dialog dan tokoh-tokoh drama mereka. Sejujurnya, Bobi sendiri merasa agak jengkel. Namun, melihat senyum Tasya beberapa hari yang lalu di TV, selain merasa kasihan pada gadis yang harus memiliki topeng di kamera itu, Bobi juga dapat melihat usaha kerasnya. Ia berusaha melawan keegoisan dan kata-kata kasarnya, sehingga Bobi pun menghargainya, dan berusaha memakluminya.

Saat mereka berkumpul yang kedua kalinya, untuk memasuki latihan pertama, diputuskan untuk mengambil waktu tepat sepulang sekolah, sebagai taktik agar seluruh anggota hadir. Taktik itu berhasil, Tasya meminta ibunya untuk datang setelah ia mengirimi chat lagi. Namun sial, meski hadir, gadis itu justru molor di mejanya sendiri.

“Tas, Tasya,” Daniel masih mencoba sabar dalam percobaan membangunkan yang pertama. Ia melakukannya sambil menggoyang-goyang lengan gadis itu. Namun gagal. Dia justru mendengkur makin keras, dan memunggungi teman-temannya.

Percobaan kedua diambil alih oleh Yosie, karena Erika sudah lelah bertengkar dengan Tasya. Yosie, yang biasanya kalem dan ramah, mengagetkan teman-temannya dengan tingkahnya saat membangunkan artis di kelas mereka.

“TASYA! TASYA! Hei, hei, hei, hei! Ini sekolah, bukan kamar tidur! Buka matamu! Buka matamu! Jangan mau menyerah sama ngantuk! TASYA, NATASYA! Heelloooo, siiiaapaa dii saaanaaa????!!!!”

Suaranya mengguncang sekeliling bak pemandu sorak. Namun, ia juga gagal. Gadis yang mengenakan softlens biru keabuan itu masih mendengkur.

“Yo-Yo-Yoooosiiiieee?!” Bobi terpekik syok, lengkap dengan mulutnya terbuka selebar terowongan.

Yosie menoleh, menatap polos. “Ka-ka-mu… Eh sori, boleh tahu zodiakmu apa?” tanya Bobi sambil mengusap-usap ubun-ubunnya.

“Ooh? Aku Libra yang selalu adil lhoo!!” sorak Yosie, memamerkan deretan giginya yang menambah kilau senyumnya.

Kenyataan itu memukul Bobi, telak di perutnya. Laki-laki itu merasa ada kepalan tangan bersarung tinju tak terlihat yang menembus lambungnya.

ZONKDIAK.

Bobi yang tak pernah melewatkan ramalan zodiak dari media apa pun, merasa tertipu oleh pribadi Yosie sebelum mereka menginjak hari ini.

“LI! LIIIBRAAAAA?!” lidah Bobi nyaris melompat saat melontarkannya. Suaranya memantul ke setiap sudut, bergema bagaikan menggunakan toa. Secara spontan, Daniel, Yosie, dan Erika mendorong telinganya dengan kedua telapak tangan.

Namun berkat itu, Tasya justru terbangun. “SI-A-PA YANG BA-RU-SAN TE-RIAK HAH?! Mulut udah kayak knalpot truk aja!” makinya, dengan cara pandang Pennywise.

****

Yosie itu Libra?! Gila! Emang sih, aku pernah baca kalo libra itu bermuka dua! Sumpah?! Kukira dia Taurus kayak aku lho!

Ya ampun… Tapi, emang sih katanya pergaulan sama pengaruh lain bisa bawa sifat-sifat zodiak lainnya ke satu orang, bener ya gitu? Kalo dari temen-temen lainnya, kayaknya udah bener zodiaknya.

Tapi, nggak ada salahnya juga kan ya? Ngecek dulu, zodiaknya mereka masing-masing sebenernya apa. Biar tahu juga cara ngadepin mereka, ngeliat kecocokan juga sampe mana.

Rasa syok mendorong Bobi untuk mencari tahu zodiak masing-masing teman sekelompoknya. Agar tidak terdengar aneh dengan menanyakannya langsung, Bobi membuat trik dengan share post ramalan zodiak hari ini. Mereka memang sudah di rumah, tapi Bobi yakin, pada jam-jam memasuki kekuasaan bulan ini, pasti teman-temannya belum sibuk apalagi tidur.

 

Erika:  Waduh, harus jaga kesehatan nih? Emang sih belakangan tenggorokanku agak nggak enak.

Daniel: Wkwkwk bener banget Leo! Hmm, kira-kira siapa yang bakal pdkt ya? (emot nyengir)

Yosie: Duuh, kayaknya Libra gak sabaran kemarin memang gara-gara temennya sih (emot ketawa nangis)

Tasya: Haah? Kayaknya ada yang nyindir nih (emot marah)

Yosie: Memangnya kamu zodiak apa, Tas? Kok sensitif banget sih?

 

Erika dan Daniel sama sekali tidak memberi pukulan zonkdiak. Mereka benar-benar Leo dan Virgo, sama seperti dugaan Bobi. Laki-laki itu bernapas lega, namun ia harap-harap cemas karena Tasya sama sekali tak menggubris pertanyaan Yosie. Diluar dugaan, Yosie sama sekali tak sungkan menyindir orang lain. Bobi mendesah, karena tak kunjung ada respons dari Tasya. Ia memprediksi gadis itu berzodiak Scorpio, namun ia juga gelisah jika perkiraannya salah. Laki-laki itu berguling-guling di tempat tidurnya.

Karena mulai memasuki overthinking, Bobi buru-buru menghalaunya dengan beralih mewarnai gambar original character-nya yang belum diwarnai sedikit pun. Saat mulai mewarnai tangan gambar itu, melesat di benak Bobi bahwa ada PR matematika yang harus dikumpulkan besok. Ia mengecek buku latihannya, dan benar saja didapatinya sepuluh soal matematika matriks.

****

Pertemuan untuk latihan kedua drama mereka lagi-lagi harus dilewatkan oleh Tasya. Gadis itu meninggalkan chat di grup bahwa ia ada job lagi. Daniel dan Erika sudah tak berkomentar banyak dan hanya membicarakannya sekilas.

“Kalo gini terus, apa bisa dia lulus ke kelas tiga? Mana jadwalnya IPA padat banget, kok dia nggak pilih home schooling aja sih?” desah Erika, terdengar cemas sekaligus lelah.

“Ya mungkin aja dia nggak suka home schooling,” Yosie menimpali.

“Ya udah, pokoknya dia tahu perannya dan bisa nguasain itu pas perform nanti,” Daniel segera meraih naskah dialognya.

Tasya sama sekali tak membalas chat Yosie kemarin, dan sekarang tak muncul lagi saat kelompok bahasa Indonesia berkumpul. Latihan memang berjalan lancar, namun meski Tasya sudah berakting dalam beberapa sinetron, Bobi tetap merasa cemas.

Erika benar.

Kalau terus seperti ini, entah kehidupan sekolah atau karirnya, salah satunya akan hancur dan lenyap dari genggaman Tasya.

Seusai mereka berlatih, Bobi yang paling terakhir meninggalkan kelas karena hari ini dia juga piket, dan tadi pagi ia belum melakukan apa-apa sebelum bel masuk. Disapunya lantai kelas, lalu merapikan kursi-kursi dan meja, baru ditariknya tas ransel dan melompat keluar kelas. Parkiran sepeda hanya menyisakan satu kendaraan roda dua; sepeda Bobi. Namun, ada sosok gadis berambut di bawah bahu dengan seragam sekolahnya, dan punggungnya diselimuti tas ransel berwarna merah muda lembut.

Itu Tasya.

Dia duduk memunggungi Bobi, tepat di bawah salah satu pohon sekitar situ. Melihat gadis itu, Bobi sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia cemas, tapi juga sangat kesal karena usaha kelompoknya menyatukan seluruh anggota sia-sia karena aktris dan model itu.

“TASYA!!”

Bobi mengentak-entakkan langkah, dan dengan cepat berdiri menghadap wajah gadis itu. Ia sudah kehabisan kesabaran.

“Enak banget yaa kamu! Udah nggak ikut bikin cerita sama dialog, latihan sering gak dateng juga! Udah siap lulus nanti ngartis doang ya?! Udah nggak ngurus sama sekolahmu lagi?” desis Bobi ketus. “Coba liat, kamu udah baca naskahnya apa belum, dialog pertamamu praktekkin ayo! Jangan mentang-mentang bahasa Indonesia gampang, kamu jadi ngeremehin. Mau jual muka biar dapet nilai bagus gitu? Ini bukan sekolah abal-abal ya!”

Hening dan tanpa respons.

Keheningan itu sudah melahap lima menit di antara mereka.

Bobi yang bersedekap, akhirnya terpancing untuk melihat wajah gadis yang sejak tadi menunduk itu. Ia yakin akan menemukan wajah psikopat Anne Hatheway, dan caci maki berduri-duri bagaikan kaktus, serta mungkin akan ditutup dengan tamparan ganas dari gadis itu. Namun begitu Bobi melongok, dan menintip wajah gadis yang menunduk itu, ia justru melihat air mata sudah menggenang di seluruh wajah Tasya. Mulai dari mata, pipi, hidung, bibir, hingga dagu, bagian-bagian wajah gadis itu telah diselimuti tangisan.

“Ta! TA-TA-TAS-TA-SYA?!”

Tasya menggosok-gosok wajahnya. “Aku udah nggak kuat! Aku nggak mau jadi artis! Kenapa sih?! Kenapa aku harus dibenci temen-temenku gara-gara nurutin kemauannya keluarga?! Aku dikira sombong juga judes!”

Tasya terisak-isak dan histeris.

Menangis sekaligus marah.

“Kamu kenapa, Tas?” bisik Bobi, dikerubungi rasa kasihan menghadapi gadis itu.

“Lho kamu di sini toh, Tas?” seorang wanita muda dengan potongan rambut pendek muncul. Ia tampak fresh dan sporty dengan T-shirt merah terang dan celana putih tiga per empat.

“Kenapa? Aku kebingungan lho waktu mamamu bilang kamu balik ke sekolah lagi, padahal dua jam lagi ada iklan parfum kan,” sapa wanita itu tersenyum, seraya mendekati Tasya. Dari yang Bobi amati, dia tampak benar-benar ramah dan sabar, sama sekali tidak ada motif mengintimidasi terhadap Tasya.

“Maaf, Mbak. Duuh, tadi ada barangku yang ketinggalan di kelas, terus temenku ini yang kabarin aku jadi aku buru-buru balik lagi deh!”

Meski Bobi sudah pernah melihat sandiwara Tasya di acara gosip, ia masih menganga seperti orang tersambar petir melihat respons Tasya barusan. Gadis itu mendongak dengan wajah sudah kering dari tangisan, senyum ramah dan riang, lidah yang agak dijulurkan untuk menambah kesan innocent. Pelan-pelan, Bobi mengamati tangan gadis itu yang disembunyikan di sebelah roknya, dan memergoki selembar tisu sudah direnggutnya.

“Ya udah, buruan yuk kita ke lokasi pengambilan gambar. Jangan sampe nanti terjebak macet terus kita telat,” ajak wanita itu, tersenyum lembut dan berjalan meninggalkan keduanya.

Sebelum benar-benar pergi, Tasya menoleh pada Bobi dengan tatapan galaknya seperti biasa. Matanya masih agak bengkak karena habis menangis.

“Sengaja share posting-an zodiak gitu, kamu kira aku gak tahu apa motifmu? Oke asal kamu tahu aja, zodiakku Pisces tahu!” bisik Tasya ketus.

Saat itu juga Bobi merasa sudah tersambar petir. Ia membeku beberapa menit sebelum mengambil sepedanya.

ZONKDIAK.

Gadis yang selalu bersikap seperti seorang Scorpio itu, rupanya berada di bawah naungan zodiak paling cengeng dari kedua belas zodiak. Saat menuntun sepedanya keluar gerbang sekolah, Bobi baru ingat, betapa bodoh dirinya yang tidak mengecek tanggal lahir Tasya dengan mengaksesnya di internet. Dia artis, sudah pasti informasi tentang dirinya akan tersebar di dunia maya. Bobi menghela napas.

Entah zonkdiak apa lagi yang menunggunya di hari-hari berikutnya.

Minggu, 08 September 2019

4 Cara Kecilkan Lengan Dengan Gampang, Fun dan Cepat!


Kalau emang pengen punya badan bagus yang aman tanpa efek samping apa-apa, sudah pasti jawaban satu-satunya ya olahraga. Ngecilin lengan udah jadi harapan banyak orang, tapi kita sering terkendala sama yang namanya malas, bosen, dan lain-lain. Jadi gimana sih biar bisa dapetin lengan idaman tanpa kena masalah-masalah di atas yang bikin kegiatan workout kita bubar? Yuk simak tips-tips di bawah!

Push up dinding, gampang dan nggak kerasa berat lho!

1    1. Push up dinding
Gerakan ini gampang banget dilakuin dan juga praktis. Kamu cukup merentangkan kedua lengan ke depan, lalu tempelkan telapak tangan ke dinding. Terus kamu dorong badanmu mendekat ke dinding, dan tekuk sikumu. Habis gitu balik lagi ke gerakan sebelumnya, jadi kamu tarik badanmu biar kembali ke posisi semula.
Biar nggak bosen dan nggak pake capek-capek ngitung udah berapa kali ngelakuinnya, biasanya aku pake durasi lagu sebagai patokan. Jadi untuk awal-awal, bisa dilakuin selama setengah atau satu lagu full. Disesuaikan kemampuan ya guys. Jangan sampe udah kebelet mau kurus jadi diterusin padahal fisik udah gak kuat.

Gerakan paling praktis dan gak ada ribet-ribetnya, siapa aja juga bisa

2. Naik-turunkan lengan
Nah yang ini awalnya kamu perlu di posisi berdiri tegak dengan kedua tangan lurus ke bawah, gak usah diapa-apain dulu. Kaki dalam posisi agak saling berjauhan ya. Terus angkat kedua tangan ke atas, langsung turunin. Begitu terus berkali-kali selama durasi setengah atau satu lagu full, sambil kecepatan naik-turunnya tangan bisa ditambah pelan-pelan.

3. Tinju solo
Aku nyebutnya tinju solo, soalnya buat ngelakuin ini nggak perlu ada lawan mainnya. Jadi kita tinggal lakuin gerakan tinju pada umumnya, tapi diarahkan ke depan wajah kita. Tinjunya yang cepet ya guys, biar hasilnya juga maksimal. Jangan lupa pake lagu selama ngelakuin workout ini, biar nggak bosen dan semangat terus. Lagunya yang ceria, rock lebih bagus, biar nggak males-malesan guys. Misalnya ditemeni  Kill This Love-nya Blackpink  xD


4. Memutar lengan
Yang ini paling gampang kayaknya. Eh mirip-mirip sama naik-turunin lengan di no. 2 tadi sih tingkat kegampangannya. Tinggal puter-puter aja dua lenganmu ke depan guys, terus kalo udah kerasa kenceng puter kea rah belakang ya. Yang cepet juga, biar lebih kenceng lagi lengan kalian guys.


Jadi, kalo tips dariku pokoknya kalian perlu olahraga sambil ditemenin lagu yang bernada semangat biar gak bosen dan males. Terus, lakuinnya teratur ya guys yang rajin, jangan cuma sehari ato dua hari aja, gimana mau kenceng kalo gitu. Minimal seminggu, tapi aku sih baru kelihatan jelas bedanya habis dua ato tiga minggu lakuin bentuk-bentuk workout di atas, tergantung berat badan masing-masing. Kadang aku lakuin dua gerakan beda di hari yang sama, kadang satu gerakan tapi dua kali di hari yang sama.
Dua kali sehari ya guys lakuinnya, siang sama malem biar makin top. Tapi kalo lagi capek, biasanya aku cuma satu kali sih sehari hehehe. Oke, semangat praktekkin tips-tips di atas ya guys! Jangan lupa pola makan sama kelola stress juga diatur, biar hasil workout kalian makin mantul.

Sabtu, 07 September 2019

Kulit Cerah Dan Kencang Dengan Nivea Firm And Smooth

Kulit kusam, bersisik, kasar, kering dan lainnya sudah menjadi masalah umum bagi perempuan Indonesia terkait kecantikan. Untuk mengatasinya, nggak jarang banyak orang ke salon-salon dan klinik kecantikan dengan biaya yang mahal. Padahal kulit yang indah bisa didapatkan dengan mudah dan murah dengan produk-produk berkualitas yang bisa ditemui sehari-hari. Sudah pernah mencoba Nivea Body Lotion Extra White Firm and Smooth, Dear? Produk satu ini bisa jadi pilihan tepat untuk merawat kulit lho, simak review berikut ini yuk!

Nivea Firm and Smooth ini dijual dalam kemasan 200 ml dan 400 ml. Yang biasa saya pakai yang kemasan 400 ml, dia bentuknya pump dan dapat dikeluarkan dengan mudah cukup ditekan saja. Pump ini membantu kita menyesuaikan untuk mengeluarkan lotion dalam jumlah sesuai yang kita mau, jadi nggak perlu takut kebanyakan keluarnya, asal daya tekannya disesuaikan. Terus lotion ini berwarna putih dan teksturnya cair agak kekentalan gitu, cepat banget meresap di kulit jadi bisa dipakai sebelum beraktivitas di luar.

Skincare tepat untuk kulit lembap dan lembut

Nah sekarang kita bahas manfaat-manfaat yang ditawarkan ya, Dear. Jadi produk ini sesuai namanya, manfaat utamanya adalah mengencangkan dan mencerahkan kulit. Dia punya formula bahan aktif Q10 untuk mengencangkan dan menjaga elastisitas kulit, vitamin C sampai 40x, dan doule UV protection. Jadi bisa dibilang kandungannya memang sudah komplit banget untuk kebutuhan kulit ya.

Selain manfaat-manfaat yang sudah saya sebutkan, produk ini juga membantu banget melembutkan kulit yang kasar atau bersisik. Saya sudah pakai selama lebih dari sebulan, tapi dengan pemakaian rutin setiap harinya akan terlihat perbedaan signifikan pada kulit meski baru pakai dalam dua hari. Saat kulit saya kering dan terasa kasar, setelah pakai Nivea ini maka kulit jadi lebih lembut, kenyal dan lembap. Untuk manfaat cerahnya, bisa dilihat dalam waktu seminggu pemakaian.

Lindungi kulit dengan uv protection

Karena mengandung UV protection, sangat dianjurkan juga untuk mengaplikasikannya di kulit sebelum beraktivitas di luar ruangan lho, Dear. Jangan sampai sudah susah payah merawat kulit, kita lupa untuk memberinya perlindungan apalagi di bawah sinar matahari. Kita hidup di daerah tropis, jadi UV protection sudah menjadi syarat penting untuk menjaga kecantikan dan keindahan kulit. Produk Nivea varian ini agak sulit didapatkan di minimarket dan supermarket biasa, jadi kalian bisa membelinya secara online di marketplace-marketplace atau secara offline di Guardian atau Watsons ya.

Sabtu, 21 November 2015

IMPIAN IBU TIDAK DIJUAL!

5  Agustus  2014
Jam  11  malam  aku  menatap  puas  sepotong  blus  batik  karyaku. Aku  mendapatkan  blus  batik  itu  dari  kakak  ipar  saat  mengunjungi  mereka  di  Magetan. Aku  ingat  saat  kak  Devi  menyerahkannya  ia  berkata. “ Ini  kain  batik  yang  kudapat  dari  lelang, barang  langka. Tapi  sudah  2  bulan  beli, nggak  terpakai  juga  karena  terlalu  sibuk, jadi  nggak  ada  yang  menjahitkan. Untukmu  saja, Nen. Pakai  baik-baik  ya.”
Aku  senang  sekali  menerimanya. Memang  sangat  halus  dan  corak  batiknya  pun  unik, indah  sekali. Karena  sebentar  lagi  ulangtahunnya  akan  tiba, kuputuskan  untuk  membuatnya  blus  batik  sebagai  hadiah  untuk  ibu. Ibu  sering  kebingungan  kalau  diundang  ke  pesta  atau  acara  syukuran  kenalannya. Karena  baju  itu-itu  saja  yang  dipakainya, jadi  beliau  sering  memilih  untuk  tidak  datang  dan  menitipkan  uang  sumbangan  pada  tamu  undangan  lain  yang  dikenalnya. Karena  sudah  selarut  ini, aku  segera  menyimpan  batik  itu  dilemari  dan  membereskan  meja  jahitku. Sebelum  jam  12  malam  tiba, aku  harus  sudah  berbaring. Jangan  sampai  besok  aku  kesiangan  dan  terlambat  bekerja.

12  Agustus  2014
Hari  ini  kantor  diliburkan  karena  kematian  seorang  istri  rekan  bisnis  yang  sudah  banyak  berjasa  pada  kantor  ini. Sesampai  di  rumah, sudah  berdiri  tenang  sepeda  motor  merah  di  halaman  yang  cukup  sempit. Aku  bergegas  melepas  sepatu  dan  memasuki  ruang  tamu. Di  sana  sudah  duduk  wanita  paruh  baya  berambut  keriting  yang  sudah  melahirkanku  dan  seorang  laki-laki  30  tahunan  berkacamata  yang  tidak  asing  bagiku. Mereka  bercakap-cakap  dengan  senang, terlihat  dari  senyum  mereka  yang  sesekali  muncul.
“Lho, Bang  Tono  tumben  datang  jam  segini,”  sapaku. Segera  kutempati  bagian  kosong  di  sebelah  ibu. Laki-laki  itu  tersenyum. “Iya, mau  kasih  info  penting  buat  Tante  Sari.” Bang  Tono  ini  saudara  sepupuku  yang  sudah  berkeluarga. Dia  dan  orangtuanya  sudah  begitu  baik  membantu  keluarga  kami  yang  sering  kesulitan  ekonomi. Tapi  jarang  sekali  ia  datang  siang-siang  begini  ke  rumah, padahal  dia  sendiri  bekerja.
Kedua  tangan  ibu  langsung  mencengkeram  tangan  kananku. “Nena, kata  Nak  Tono  sebentar  lagi  ada  lomba  peragaan  busana  batik  di  kantornya. Tingkat  kota  lho, Nen! Jarang  kan  ada  lomba  peragaan  busana  buat  ibu-ibu, jadi  dia  nawarin  Ibu  buat  ikutan.”  Bang  Tono  buru-buru  menambahkan. “Yang  lebih  keren, hadiahnya  jutaan, Nen! Pendaftarannya  gratis  pula, siapa  tahu  Tante  Sari  beruntung.”
Sebenarnya  bukan  hal  buruk  juga  sih. Apalagi  minat  ibu  sama  hal-hal  berbau  fashion  memang  besar, siapa  tahu  bisa  jadi  kepuasan  juga  buat  ibu. Baru  aku  mau  berkomentar, Bang  Tono  sudah  ngoceh  lagi. “Nggak  cuma  ada  lomba  sih. Bakal  ada  bazaar  juga, pokoknya  banyak  acaranya. Kalau  mau  kamu  juga  datang  ya, Nena. Acaranya  hari  Sabtu  sama  Minggu, jadi  nggak  ganggu  kesibukan.”
Tapi  aku  tidak  terlalu  mempedulikannya  dan  melirik  ibu. Senyumnya  benar-benar  bercahaya. Ibu  pasti  ingin  memperlihatkan  hasil  karya  anaknya  pada  banyak  orang  sambil  menyalurkan  passion-nya. Apalagi  ibu  sudah  jarang  melakukan  kesenangannya  karena  sibuk  mencari  uang  lewat  menjahit  dan  jasa  laundry. Aku  sama  sekali  belum  sempat  berkomentar  apapun  dalam  percakapan  tersebut, untungnya  ibu  dan  Bang  Tono  masih  tetap  ngobrol  dengan  senang.

24  Agustus  2014
Untuk  menambah  keindahan  hadiah  batik  yang  akan  kuserahkan  pada  ibu, aku  akan  membeli  bros  dari  Safira, teman  sekantorku. Dia  menjual  bros  sebagus  di  toko-toko  dengan  harga  lebih  murah, jadi  aku  tak  perlu  cemas  akan  menghabiskan  gajiku. Untuk  memilih  bros  yang  cocok, aku  membawa  batik  itu  ke  kantor  dan  kuperlihatkan  pada  Safira. Dia  sudah  membawakan  banyak  bros  yang  cantik-cantik.
“Waah, batiknya  keren  banget, Nena! Ini  sungguh  kamu  jahit  sendiri? Dari  bentuk  kain  doang??”  tanya  Safira  terpukau. “Iya, Fir. Bagusnya  pakai  bros  yang  kayak  gimana  ya? Ibuku  memang  sudah  berumur, tapi  mukanya  cukup  awet  muda,”  gumamku  senyum. Aku  mendongak  menatapnya. “Pilihkan  dong, kira-kira  yang  bagus.”
Perempuan  berambut  ekor  kuda  itu  menepuk  dadanya. “Serahkan  padaku!”  serunya  optimis. “Kalau  begitu  aku  mau  beli  minuman  sebentar, tolong  ya, Fira!”  pamitku. Seketika  itu  aku  berjalan  cepat  menyusuri  lorong  kantor  dan  berhenti  di  lantai  satu. Begitu  melihat  kantin, aku  langsung  masuk  dan  membuka  kulkasnya.
Setelah  membayar  sekaleng  minuman  soda  dan  sekaleng  jus, aku  kembali  ke  ruanganku. “Ah, balik  juga  Nena. Lihat! Gimana  dengan  bros  ini?”  sorak  Safira. Ia  menggenggam  batik  ibu  yang  dibagian  dada  sebelah  kiri  sudah  ditusuk  bros  bentuk  apel  warna  merah  darah. Indah.
“Bagus, bagus! Waah, cocok  banget.”
“Syukurlah! Aku  tadi  bingung  sendiri, tapi  begitu  coba  pasang  apel  ini  ternyata  bagus  banget, cocok  sama  batiknya.”  Senyum  lega  menghiasi  Safira.
“Bagus  sekali  batiknya.”  Mendengar  suara  itu, aku  dan  Safira  menatap  ke  belakangku. Bu  David— pimpinan  divisi  kami—muncul  dan  tersenyum  kagum. Kedua  matanya  terpaku  pada  batik  ibu. “Iya  kan, Bu  David?? Ini  buatannya  Nena  sendiri  lho! Dia  jahitkan  buat  hadiah  ibunya, bikin  iri  aja,”  komentar  Safira, ia  lalu  mengembalikan  batik  itu  padaku.
Tiba-tiba  Bu  David  mengambil  batik  itu  dariku. Dia  memperhatikan  setiap  sudutnya  dan  menaik-turunkannya. Sepertinya  dia  suka  sekali  dengan  batik  ibu  ini. “Maaf  Bu  David, boleh  saya  ambil  batiknya? Saya  akan  membungkusnya  untuk  dihadiahkan  pada  ibu   nanti,”  pintaku  sambil  mengulurkan  tangan  kanan.
“Ah, maaf  saya  jadi  lupa. Kain  ini  kain  batik  yang  langka  ya?”
“Benar. Anda  tahu?”
Ia  tersenyum  dan  mengembalikan  batik  itu  padaku. “Ya, saya  pernah  melihatnya  di  pameran  karya  desainer  Indonesia  yang  akan  ikut  kompetisi  di  Eropa…. Saya  lupa  siapa  namanya. Kainnya  saja  sudah  bagus  sekali, didesain  sebagus  ini, jadi  blus  batik  yang  sangat  mempesona  ya.”
“Heebaat!”  seru  Safira. Matanya  membulat. “Itu  benar-benar  kain  yang  langka?? Keren  banget, Nena! Pantas  rasanya  bukan  kain  batik  biasa!”  Kedua  tangan  perempuan  itu  mengepal  dengan  wajah  bersemangat. Aku  cuma  bisa  tersenyum  mengiyakan  dengan  malu. Terlalu  banyak  pujian  sebenarnya  membuatku  nggak  nyaman.
Cepat-cepat  kusembunyikan  batik  ibu  kedalam  tas  lagi. Pokoknya  aku  sudah  dapat  bros  yang  bagus, jadi  hadiah  buat  ibu  sudah  sempurna. Meski  ibu  sudah  tahu  aku  akan  memberinya  batik  ini, beliau  belum  tahu  kan  kalau  aku  sudah  memasangkan  bros  yang  bagus  juga  dibatiknya? Kuharap  ibu  bisa  jauh  lebih  senang  lagi. Saat  itu, aku  masih  belum  menyadarinya. Bahwa  akan  datang  jurang  lebar  yang  mencegahku…. Memberi  batik  ini  sebagai  hadiah  untuk  wanita  yang  paling  kucintai  di  dunia.

8  September  2014
Baru  saja  aku  mau  ke  toilet, Reno  sudah  memanggilku. “Nena, dicari  sama  kepala  divisi  lho!”  katanya. Duuh! Padahal  aku  kebelet  banget  kencing! Takut  telat, di  rumah  tadi  nggak  sempat  kencing  meski  sudah  kebelet. “Di, di  ru-ruangannya?”  tanyaku, kedua  tanganku  masih  meremas  perut. Reno  mengangguk. Setelah  tahu, segera  aku  ke  toilet  dan  keluarkan  semua  yang  harus  keluar. Begitu  lega, aku  berjalan  memasuki  ruangan  kepala  divisi  ini. Kuketuk  pelan  pintunya  dan  suara  Bu  David  memintaku  masuk.
“Ada  apa  memanggil  saya, Bu?”  tanyaku  setelah  duduk  di  depannya. Dia  tersenyum, tapi  senyumnya  senyum  yang  berselimut  rasa  sungkan.
“Sebenarnya  saya  merasa  tidak  enak  harus  melakukan  ini, padahal  saya  sudah  tahu  itu  barang   untuk  orang  yang  penting  bagimu. Tapi  saya  sendiri  benar-benar  membutuhkannya.”
Jantungku  langsung  bergetar  keras  dan  sekitar  kami  terasa  hampa, begitu  kudengar  kalimat  ini  darinya. “Aku  ingin  kau  menjual  batik  buatanmu  yang  waktu  itu  kulihat, Nena.”  Matanya  benar-benar  serius! Tapi  aku  kan  mau  menghadiahkannya  buat  ibu. Ibu  juga  sudah  sangat  menantikannya.
“Maaf…. Kenapa  Anda  menginginkan  batik  itu? Bukankah  masih  banyak  batik  yang  lebih  bagus  dan  berkualitas  dari  yang  itu?”
Suasana   menghening. Ah! aku  tahu!
Perlahan, aku  berkata  lagi  pada  Bu  David. “A, anu…. Kalau  Bu  David  mau, Anda  bisa  pesan  batik  serupa  pada  saya. Atau  saya  buatkan  model  yang  lebih  bagus, silakan  Anda  pilih  kain  batik  sesuai  selera  Anda.”  Tapi  dia  masih  diam. Lalu  mulutnya  perlahan  bergerak. “Sebenarnya, saya  menginginkan  batikmu  bukan  untuk  saya  sendiri. Ini  untuk  ibu  mertua  saya, beliau  membutuhkan  batik  untuk  menghadiri  pertemuan  penting  dengan  perwakilan  universitas  Jerman. Saya  pikir, rasa  percaya  dirinya  akan  bertambah  dan  pasti  beliau  akan  senang  sekali  mengenakannya.”
“Maaf, Bu  David,”  gumamku, “dengan  sangat  menyesal, saya  tegaskan  bahwa  batik  itu  TIDAK  DIJUAL.”  Aku  menatapnya  tajam. Memang  ini  bukan  perlakuan  yang  pantas  untuk  atasan, tapi  aku  harus  menegaskannya! Wanita  cantik  di  hadapanku  tercengang  mendengarnya. Kedua  bola  matanya  melebar  seakan  baru  saja  dikhianati  partner  bisnisnya. Aku  bisa  merasakan  aku  sudah  menenggelamkan  diriku  sendiri. Menyerahkan  diri  ke  samudra  terdalam  yang  dilanda  badai  besar. Petir  mulai  menggonggong  dikepalaku.
“Aah, saya  pikir  kau  membutuhkan  waktu  untuk  mempertimbangkannya. Tidak  baik  secepat  ini  mengambil  keputusan, jangan  sampai  kau  menyesal, Nena,”  ujar  Bu  David  tersenyum. Tapi  tangannya  gemetar. “Tidak, saya  sudah  yakin.”  Aku  mengatakan  semua  yang  kupikirkan  pada  atasanku. Belum  pernah  aku  merasa  selancang  itu.
“Keyakinan  yang  mengagumkan, Nena. Saya  sangat  menghargainya. Tapi  saya  rasa  kita  bisa  membuat  negosiasi, bukan?”  bisiknya. Ia  mencondongkan  tubuhnya, dan  wajahnya  sedikit  lebih  dekat  ke  arahku. Tanpa  kusadari, tenggorokanku  sudah  menelan  ludah. “Kubeli  batik  itu  seharga  yang  kau  mau. Bagaimana  dengan  5  juta?”
Deeg! Napasku  tertahan  sejenak. Lima? Lima  juta? Apa  aku  tidak  salah  dengar? Benarkah  dia  mengatakan  angka  sebesar  itu? Lima  juta  untuk  sepotong  blus  batik…. Itu  harga  batik  yang  kulihat  di  toko  yang  menjual  merk  batik  no.1  di  Indonesia!! Benar! Batik  yang  digunakan  para  pejabat  itu  harganya  5  juta!!
Dengan  uang  sebanyak  itu, aku  pasti  bisa  melunasi  hutang-hutang  kami  dan  sisanya  kupakai  sebagai  uang  muka  sepeda  motor. Bu  David  terlihat  puas  dengan  ekspresi  bimbangku. Dia  berhasil  menggoyahkanku. “Masih  kurang  ya? Baik, pikirkanlah  harga  yang  pantas  untuk  batik  itu. Setelah  kau  bicarakan  denganku, akan  langsung  kuambil  seharga  yang  kau  mau. Bahkan, kalau  kau  mau  aku  juga  bisa  mempromosikan  kenaikan  jabatanmu, Nena.”  Ucapan  itu  makin  jadi  bumerang  dihatiku. Aku  tahu  itu  sangat  berlawanan  dengan  prinsipku, tapi  aku  juga  membutuhkan  semua  yang  ditawarkannya  itu!
“Maaf, saya  permisi  dulu. Banyak  pekerjaan  yang  belum  diselesaikan,”  pamitku  beranjak  berdiri. Ia  mengangguk  tersenyum. “Silakan. Saya  tunggu  kabar  darimu  secepatnya, kuharap  kau  tidak  melewatkan  kesempatan  selangka  ini. Biarkan  pembicaraan  ini  antara  kita  saja  yang  tahu.”
Pintu  yang  tadinya  kubuka  dengan  mudah, sekarang  jadi  terasa  berat  sekali. Apa  aku  harus  meyakinkan  ibu? Mungkin  ada  baiknya  aku  mencoba. Mungkin  ibu  bisa  mengerti  dan  aku  tidak  akan  menyesal  dikemudian  hari. Ya. Pulang  nanti, akan  langsung  kubicarakan  pada  ibu. Beliau  pun  pasti  akan  mendukung  keberhasilan  anaknya…. Untuk  keluarga.

15  September  2014
Sudah  seminggu  ini  aku  berusaha  bicara, tapi  aku  masih  kesulitan  mengucapkannya  pada  ibu!! Kenapa? Kenapa? Kenapa  seberat  ini  untuk  mengatakannya? Kenapa  aku  jadi  setakut  ini  sih?? Apa  ibu  akan  kecewa? Apa  ibu  akan  sangat  sedih? Jangan-jangan! Be, beliau  justru  akan  menangis?!
“Ada  apa, Nena? Sejak  minggu  lalu, mukamu  sebingung  itu  dan  pegang  kepala  terus. Kamu  sakit? Apa  ada  yang  kamu  pikirkan?”  tanya  ibu. Beliau  benar-benar  mengenali  anaknya. Saat  itu, tiba-tiba  Farhan  adikku  pulang. Ia  segera  minta  makan  pada  ibu. Karena  ibu  dibawanya  ke  dapur, maka  aku  menunda  lagi  apa  yang  ingin  kubicarakan.
Kalau  Farhan  yang  ada  diposisiku, apa  yang  akan  dilakukannya  ya? Memang  sekarang  dia  masih  kecil, tapi  dia  sudah  lebih  bijaksana  daripadaku. Apa  untuk  pilihan  seperti  inipun, dia  akan  jauh  lebih  bijak  dariku? Aku  segera  menyusul  mereka  ke  dapur. Ibu  yang  sedang  menyendokkan  nasi  untuk  Farhan  tersenyum  padaku. “Kamu  juga  mau  makan, Nena?”  tanyanya  lembut.
Tapi  aku  menggeleng. “Aku  mau  minum  air  kok.”
“Kak, Kak! Tadi  Farhan  sempat  mampir  ke  rumah  Yanto, Farhan  lewat  puskesmas  deket  rumahnya. Ada  tulisan  diskon  pengobatan  tiap  hari  Senin  lho, Kak! Kalo  asma  Kakak  masih  sering  kambuh, berobatnya  ke  sana  aja. Nanti  Farhan  tunjukin  tempatnya!”  Cerita  adikku  itu  meluapkan  rasa  haru  didada. Ya, dia  memang  masih  SD. Tapi  dia  benar-benar  memikirkan  keluarganya. Akupun…. Akupun  ingin  melindungi  keluarga  yang  sudah  kehilangan  bapak  ini. Tapi  apa  caraku  sudah  benar  kalau  aku  memilih  keputusan  ini?
Mengambil  segelas  air  sambil  sibuk  memikirkan  hal  lain, aku  benar-benar  payah. Jadinya  gelas  itu  jatuh  dan  pecah. “Aduuh!”  tukasku  kesakitan. Pecahannya  ada  yang  menggores  jariku, untungnya  luka  kecil. “Mana  tanganmu, Nena!”  seru  ibu  cepat-cepat  menghampiriku. Beliau  meraih  tanganku  dan  bernapas  lega  setelah  melihat  lukaku  tidak  parah. “Bukan  luka  parah, tapi  tetap  harus  cepat  diobati. Ayo, ikut  Ibu!”
Tapi  aku  menggeleng. “Nggak  usah, Bu. Aku  bisa  obati  sendiri  kok, Ibu  lakukan  yang  lain  aja  ya. Kan  nggak  susah  ngobati  sendiri  luka  kecil  gini.”  Wajah  ibu  masih  tampak  tidak  terima, tapi  beliau  sama  sekali  tak  mengatakan  apapun. “Nggak  apa-apa, Kaak??”  seru  Farhan  tak  kalah  cemas. Sesendok  nasi  dan  secuil  perkedel  yang  akan  dilahapnya  jadi  diam  membeku. “Iya, nggak  apa-apa  kok. Kakak  obati  dulu  ya, makannya  dihabiskan  lho!”
Di  kamar, sambil  mencari  kotak  obat, mendadak  ucapan  Bu  David  terngiang  kembali  dikepalaku. Sampai  sekarangpun, aku  masih  belum  sanggup  meminta  pendapat  ibu.

28  September  2014
Sejak  pagi  ibu  sudah  tidak  di  rumah, beliau  meninggalkan  surat  untuk  memberitahu  kalau  dirinya  pergi  mendaftar  lomba  peragaan  busana  bersama  Bang  Tono. Rasanya  hatiku  makin  ngilu  membaca  itu. Ibu  begitu  bersemangat  mengikuti  lomba  peragaan  batik, apa  jadinya  kalau  aku  menjual  batik  itu  pada  Bu  David? Rasa  sakit  menguar  didada  hingga  aku  kesulitan  menulis  laporan  yang  harus  kuserahkan  pada  kantor  besok.
Tiba-tiba  Farhan  muncul  sambil  membawa  bola  merah. “Kak  Nena, minggu  depan  kelas  Farhan  kebagian  ke  Taman  Safari. Disuruh  bu  guru  bawa  uang  15  ribu  sama  bekal, bisa  ya  Kak?”  Seketika  itu  pikiranku  melayang  ke  arah  tawaran  Bu  David. Kalau  aku  terima  tawaran  itu, aku  bisa  pasang  harga  yang  cukup  untuk  membiayai  hidup  kami, melunasi  hutang-hutang, dan  masih  sisa  untuk  keperluan  penting  lainnya.
“Bisa  kok. Farhan  siap-siap  yang  betul  ya  buat  minggu  depan!”  jawabku  riang. “Iiyaa!! Hooree! Hooreee!! Makasih, Kak  Nena! Farhan  main  lagi  yaa!”  soraknya  berlari  pergi, masih  membawa  bola  merah  yang  dibawanya  masuk  tadi. Aku  menghela  napas. Sekarang  benar-benar  jadi  masalah  serius.
Jam  2  siang  ibu  baru  sampai  rumah. Katanya  setelah  daftar  lomba  ditraktir  makan  Bang  Tono, makanya  beliau  pulang  dengan  membawa  sebungkus  tahu  campur. Karena  aku  sudah  makan, kubiarkan  Farhan  menghabiskan  sebungkus  tahu  campur  itu. Adikku  itu  keasyikan  main  di  luar  dan  belum  makan  sih.
Saat  Farhan  makan  sendiri  sambil  menonton  televisi, aku  membawa  ibu  ke  kamar. “Ada  apa, Nena?”  tanya  ibu  penasaran. Beliau  duduk  dengan  sopan  dan  matanya  berbinar  indah. Wanita  yang  memiliki  sepasang  mata  indah  itu  sudah  berjuang  sangat  keras  membesarkanku  dan  Farhan  seorang  diri  selama  ini.
Aku  duduk  di  hadapannya  dengan  wajah  mendung. Sementara  senyum  menyilaukan  masih  menempel  diwajah  ibu. Makin  berat  rasanya  mengatakan  ini. Tidak  tega  rasanya  harus  melenyapkan  senyum  indah  itu  dengan  seulas  kalimat  yang  terkesan  kejam. Akhirnya  aku  menghela  napas  sejenak.
“Bu, Nena  mau  tanya  pendapat  Ibu.”
Ibu  menganggukkan  kepala.
“Bu, kepala  divisi  yang  Nena  tempati  tertarik  banget  sama  batik  yang  mau  Nena  kasih  buat  Ibu. Katanya  mau  dibeli  seharga  berapapun. Ibu…. Nggak  apa-apa?”  tanyaku, sambil  melirik  kepada  ibu.
Ibu  tersenyum, tapi  aku  bisa  merasakan  kesedihan  dan  kekecewaannya. “Ya  sudah, Nena. Kalau  begitu  kamu  jual  saja  ke  atasanmu  itu, nggak  apa  kok. Ibu  tahu  kamu  cuma  berusaha  melindungi  keluarga  dengan  mencarikan  uang. Lagipula  kain  batik  itu  diberi  Nak  Devi  untukmu  kan? Jadi  lakukan  saja  apa  yang  ingin  kamu  lakukan.”
Kalimat  yang  begitu  lembut  dan  penuh  keikhlasan. Aku  benar-benar  merasa  hatiku  sudah  disiram  seember  air  yang  begitu  menyegarkan. Perasaan  lega  memenuhi  diriku. Ibu  benar-benar  memahami  anaknya. “Terima  kasih! Terima  kasih, Ibu!”  seruku, dengan  langsung  memeluknya. “Aku  janji  aku  pasti  perbaiki  kondisi  keluarga  dengan  pengorbanan  Ibu  ini! Aku  janji  pasti  kasih  yang  terbaik  buat  keluarga  kita, Bu!”  Ibu  menepuk-nepuk  punggungku. Tangannya  terasa  sangat  hangat. “Iya, Nena. Ibu  banggga  punya  anak  yang  memikirkan  keluarga.”

1  Oktober  2014
Aku  bangun  lebih  pagi  dari  biasanya  untuk  menghitung  besar  uang  yang  kami  butuhkan  dan  harga  yang  bisa  kuberikan  pada  Bu  David. Pagi  itu  masih  gelap, jam  setengah  4. Setelah  selesai, aku  bergegas  ke  kamar  mandi. Aku  terkejut  melihat  lampu  ruang  tamu  menyala. Terdengar  pelan  suara  ibu  berbicara. Begitu  kuteliti, ternyata  beliau  menggenggam  telepon  di  ruang  tamu.
“Karena  itu, Nak  Tono. Tante  putuskan  batal  ikut  lomba  itu, maaf  sekali  ya.”
Hatiku  bagai  ditabrak  truk  mendengarnya. Aku  segera  berlari, tanpa  pikir  panjang  aku  langsung  berlari  ke  kamar. Ya  Tuhan! Apa  yang  sudah  kulakukan?! Demi  sejumlah  uang, aku  mau  membunuh  keinginan  wanita  yang  tak  pernah  lelah  mengalah  demiku?! Keinginannya  yang  tidak  sampai  setahun  sekali  bisa  terpenuhi?! Maaf! Maafkan  aku, Ibu!
Bu  David  sedang  berdiri  di  depan  jendela  saat  aku  masuk  ke  ruangannya. “Jadi  bagaimana, Nena? Berapa  harga  yang  kau  inginkan?”  tanyanya  optimis. “Maaf, Bu  David. Kali  ini, saya  benar-benar  tidak  akan  menjualnya. Saya  tidak  akan  menarik  kata-kata  ini!”  Dan  hari  itu  juga, aku  mendapat  perlakuan  khusus  berupa  penurunan  jabatan. Tapi  tidak  apa, aku  tidak  akan  menyesal. Uang  masih  bisa  dicari, sedangkan  impian  ibu  tidak  bisa  dijual.
Aku  pulang  dan  menyerahkan  batik  itu  pada  ibu. Sekarang, batik  itu  resmi  menjadi  milik  ibu. Ibu  menangis  sambil  tersenyum  dan  mencium  pipiku. Beliau  sangat  senang  menerimanya, tidak  rugi  aku  mengorbankan  jabatanku. Akhirnya, ibu  jadi  mengikuti  lomba  peragaan  batik  di  kantor  Bang  Tono  tanggal  2  Oktober. Betapa  kagetnya  kami  berempat  begitu  nama  ibu  dipanggil  sebagai  juara  pertama! Dan  yang  lebih  mengagetkan, ibu  memenangkan  sejumlah  uang  senilai  15  juta!! Kami  berempat  melompat-lompat  kesenangan, dan  dengan  itu  seluruh  hutang  kami  bisa  terlunasi. Bang  Tono  pun  disanjung  oleh  teman-teman  kantornya. Benar-benar  kebahagiaan  diluar  dugaan.



Blog  post  ini  dibuat  dalam  rangk  mengikuti  Kompetisi  Menulis  Cerpen  "Pilih  Mana: Cinta  Atau  Uang?"  #KeputusanCerdas  yang  diselenggarakan  oleh  www.cekaja.com  dan  Nulisbuku.com