5 Agustus
2014
Jam 11
malam aku menatap
puas sepotong blus
batik karyaku. Aku mendapatkan
blus batik itu
dari kakak ipar
saat mengunjungi mereka
di Magetan. Aku ingat
saat kak Devi
menyerahkannya ia berkata. “ Ini kain
batik yang kudapat
dari lelang, barang langka. Tapi
sudah 2 bulan
beli, nggak terpakai juga
karena terlalu sibuk, jadi
nggak ada yang
menjahitkan. Untukmu saja, Nen.
Pakai baik-baik ya.”
Aku senang
sekali menerimanya. Memang sangat
halus dan corak
batiknya pun unik, indah
sekali. Karena sebentar lagi
ulangtahunnya akan tiba, kuputuskan untuk
membuatnya blus batik
sebagai hadiah untuk
ibu. Ibu sering kebingungan
kalau diundang ke
pesta atau acara
syukuran kenalannya. Karena baju
itu-itu saja yang
dipakainya, jadi beliau sering
memilih untuk tidak
datang dan menitipkan
uang sumbangan pada
tamu undangan lain
yang dikenalnya. Karena sudah
selarut ini, aku segera
menyimpan batik itu
dilemari dan membereskan
meja jahitku. Sebelum jam
12 malam tiba, aku
harus sudah berbaring. Jangan sampai
besok aku kesiangan
dan terlambat bekerja.
12 Agustus
2014
Hari ini kantor diliburkan
karena kematian seorang
istri rekan bisnis
yang sudah banyak
berjasa pada kantor
ini. Sesampai di rumah, sudah
berdiri tenang sepeda
motor merah di
halaman yang cukup
sempit. Aku bergegas melepas
sepatu dan memasuki
ruang tamu. Di sana
sudah duduk wanita
paruh baya berambut
keriting yang sudah
melahirkanku dan seorang
laki-laki 30 tahunan
berkacamata yang tidak
asing bagiku. Mereka bercakap-cakap dengan
senang, terlihat dari senyum mereka
yang sesekali muncul.
“Lho, Bang Tono
tumben datang jam
segini,” sapaku. Segera kutempati
bagian kosong di
sebelah ibu. Laki-laki itu
tersenyum. “Iya, mau kasih info
penting buat Tante
Sari.” Bang Tono ini
saudara sepupuku yang
sudah berkeluarga. Dia dan
orangtuanya sudah begitu
baik membantu keluarga
kami yang sering
kesulitan ekonomi. Tapi jarang
sekali ia datang
siang-siang begini ke
rumah, padahal dia sendiri
bekerja.
Kedua tangan
ibu langsung mencengkeram
tangan kananku. “Nena, kata Nak
Tono sebentar lagi
ada lomba peragaan
busana batik di
kantornya. Tingkat kota lho, Nen! Jarang kan
ada lomba peragaan
busana buat ibu-ibu, jadi
dia nawarin Ibu
buat ikutan.” Bang
Tono buru-buru menambahkan. “Yang lebih
keren, hadiahnya jutaan, Nen!
Pendaftarannya gratis pula, siapa
tahu Tante Sari
beruntung.”
Sebenarnya bukan
hal buruk juga
sih. Apalagi minat ibu
sama hal-hal berbau
fashion memang besar, siapa
tahu bisa jadi
kepuasan juga buat
ibu. Baru aku mau
berkomentar, Bang Tono sudah
ngoceh lagi. “Nggak cuma
ada lomba sih. Bakal
ada bazaar juga, pokoknya banyak
acaranya. Kalau mau kamu
juga datang ya, Nena. Acaranya hari Sabtu sama
Minggu, jadi nggak ganggu
kesibukan.”
Tapi aku
tidak terlalu mempedulikannya dan
melirik ibu. Senyumnya benar-benar
bercahaya. Ibu pasti ingin
memperlihatkan hasil karya
anaknya pada banyak
orang sambil menyalurkan
passion-nya. Apalagi ibu
sudah jarang melakukan
kesenangannya karena sibuk
mencari uang lewat
menjahit dan jasa
laundry. Aku sama sekali
belum sempat berkomentar
apapun dalam percakapan
tersebut, untungnya ibu dan
Bang Tono masih
tetap ngobrol dengan
senang.
24 Agustus
2014
Untuk menambah
keindahan hadiah batik
yang akan kuserahkan
pada ibu, aku akan
membeli bros dari
Safira, teman sekantorku. Dia menjual
bros sebagus di
toko-toko dengan harga
lebih murah, jadi aku
tak perlu cemas
akan menghabiskan gajiku. Untuk
memilih bros yang
cocok, aku membawa batik
itu ke kantor
dan kuperlihatkan pada
Safira. Dia sudah membawakan
banyak bros yang
cantik-cantik.
“Waah, batiknya keren
banget, Nena! Ini sungguh kamu
jahit sendiri? Dari bentuk
kain doang??” tanya
Safira terpukau. “Iya, Fir. Bagusnya pakai
bros yang kayak
gimana ya? Ibuku memang
sudah berumur, tapi mukanya
cukup awet muda,”
gumamku senyum. Aku mendongak
menatapnya. “Pilihkan dong,
kira-kira yang bagus.”
Perempuan berambut
ekor kuda itu
menepuk dadanya. “Serahkan padaku!”
serunya optimis. “Kalau begitu
aku mau beli
minuman sebentar, tolong ya, Fira!”
pamitku. Seketika itu aku
berjalan cepat menyusuri
lorong kantor dan
berhenti di lantai
satu. Begitu melihat kantin, aku
langsung masuk dan
membuka kulkasnya.
Setelah membayar
sekaleng minuman soda
dan sekaleng jus, aku
kembali ke ruanganku. “Ah, balik juga
Nena. Lihat! Gimana dengan bros
ini?” sorak Safira. Ia
menggenggam batik ibu
yang dibagian dada
sebelah kiri sudah
ditusuk bros bentuk
apel warna merah
darah. Indah.
“Bagus, bagus! Waah, cocok banget.”
“Syukurlah! Aku tadi
bingung sendiri, tapi begitu
coba pasang apel
ini ternyata bagus
banget, cocok sama batiknya.”
Senyum lega menghiasi
Safira.
“Bagus sekali
batiknya.” Mendengar suara
itu, aku dan Safira
menatap ke belakangku. Bu David— pimpinan divisi
kami—muncul dan tersenyum
kagum. Kedua matanya terpaku
pada batik ibu. “Iya
kan, Bu David?? Ini buatannya
Nena sendiri lho! Dia
jahitkan buat hadiah
ibunya, bikin iri aja,”
komentar Safira, ia lalu
mengembalikan batik itu
padaku.
Tiba-tiba Bu
David mengambil batik
itu dariku. Dia memperhatikan
setiap sudutnya dan
menaik-turunkannya. Sepertinya
dia suka sekali
dengan batik ibu
ini. “Maaf Bu David, boleh
saya ambil batiknya? Saya akan
membungkusnya untuk dihadiahkan
pada ibu nanti,”
pintaku sambil mengulurkan
tangan kanan.
“Ah, maaf saya
jadi lupa. Kain ini
kain batik yang
langka ya?”
“Benar. Anda tahu?”
Ia tersenyum
dan mengembalikan batik
itu padaku. “Ya, saya pernah
melihatnya di pameran
karya desainer Indonesia
yang akan ikut
kompetisi di Eropa…. Saya
lupa siapa namanya. Kainnya saja
sudah bagus sekali, didesain sebagus
ini, jadi blus batik
yang sangat mempesona
ya.”
“Heebaat!” seru
Safira. Matanya membulat. “Itu benar-benar
kain yang langka?? Keren banget, Nena! Pantas rasanya
bukan kain batik
biasa!” Kedua tangan
perempuan itu mengepal
dengan wajah bersemangat. Aku cuma
bisa tersenyum mengiyakan
dengan malu. Terlalu banyak
pujian sebenarnya membuatku
nggak nyaman.
Cepat-cepat kusembunyikan
batik ibu kedalam
tas lagi. Pokoknya aku
sudah dapat bros
yang bagus, jadi hadiah
buat ibu sudah
sempurna. Meski ibu sudah
tahu aku akan
memberinya batik ini, beliau
belum tahu kan
kalau aku sudah
memasangkan bros yang
bagus juga dibatiknya? Kuharap ibu
bisa jauh lebih
senang lagi. Saat itu, aku
masih belum menyadarinya. Bahwa akan
datang jurang lebar
yang mencegahku…. Memberi batik
ini sebagai hadiah
untuk wanita yang
paling kucintai di
dunia.
8
September 2014
Baru saja
aku mau ke
toilet, Reno sudah memanggilku. “Nena, dicari sama
kepala divisi lho!”
katanya. Duuh! Padahal aku kebelet
banget kencing! Takut telat, di
rumah tadi nggak
sempat kencing meski
sudah kebelet. “Di, di ru-ruangannya?” tanyaku, kedua tanganku
masih meremas perut. Reno
mengangguk. Setelah tahu,
segera aku ke
toilet dan keluarkan
semua yang harus
keluar. Begitu lega, aku berjalan
memasuki ruangan kepala
divisi ini. Kuketuk pelan
pintunya dan suara
Bu David memintaku
masuk.
“Ada apa
memanggil saya, Bu?” tanyaku
setelah duduk di
depannya. Dia tersenyum,
tapi senyumnya senyum
yang berselimut rasa
sungkan.
“Sebenarnya saya
merasa tidak enak
harus melakukan ini, padahal
saya sudah tahu
itu barang untuk
orang yang penting
bagimu. Tapi saya sendiri
benar-benar membutuhkannya.”
Jantungku langsung
bergetar keras dan
sekitar kami terasa
hampa, begitu kudengar kalimat
ini darinya. “Aku ingin
kau menjual batik
buatanmu yang waktu
itu kulihat, Nena.” Matanya
benar-benar serius! Tapi aku
kan mau menghadiahkannya buat
ibu. Ibu juga sudah
sangat menantikannya.
“Maaf…. Kenapa Anda
menginginkan batik itu? Bukankah
masih banyak batik
yang lebih bagus
dan berkualitas dari
yang itu?”
Suasana menghening. Ah! aku tahu!
Perlahan, aku berkata
lagi pada Bu
David. “A, anu…. Kalau Bu David
mau, Anda bisa pesan
batik serupa pada
saya. Atau saya buatkan
model yang lebih
bagus, silakan Anda pilih
kain batik sesuai
selera Anda.” Tapi
dia masih diam. Lalu
mulutnya perlahan bergerak. “Sebenarnya, saya menginginkan
batikmu bukan untuk
saya sendiri. Ini untuk
ibu mertua saya, beliau membutuhkan
batik untuk menghadiri
pertemuan penting dengan
perwakilan universitas Jerman. Saya
pikir, rasa percaya dirinya
akan bertambah dan
pasti beliau akan
senang sekali mengenakannya.”
“Maaf, Bu David,”
gumamku, “dengan sangat menyesal, saya tegaskan
bahwa batik itu
TIDAK DIJUAL.” Aku
menatapnya tajam. Memang ini
bukan perlakuan yang
pantas untuk atasan, tapi
aku harus menegaskannya! Wanita cantik
di hadapanku tercengang
mendengarnya. Kedua bola matanya
melebar seakan baru
saja dikhianati partner
bisnisnya. Aku bisa merasakan
aku sudah menenggelamkan diriku
sendiri. Menyerahkan diri ke
samudra terdalam yang
dilanda badai besar. Petir
mulai menggonggong dikepalaku.
“Aah, saya pikir
kau membutuhkan waktu
untuk mempertimbangkannya.
Tidak baik secepat
ini mengambil keputusan, jangan sampai
kau menyesal, Nena,” ujar
Bu David tersenyum. Tapi tangannya
gemetar. “Tidak, saya sudah yakin.”
Aku mengatakan semua
yang kupikirkan pada
atasanku. Belum pernah aku
merasa selancang itu.
“Keyakinan yang
mengagumkan, Nena. Saya
sangat menghargainya. Tapi saya
rasa kita bisa
membuat negosiasi, bukan?” bisiknya. Ia
mencondongkan tubuhnya, dan wajahnya
sedikit lebih dekat
ke arahku. Tanpa kusadari, tenggorokanku sudah
menelan ludah. “Kubeli batik
itu seharga yang
kau mau. Bagaimana dengan
5 juta?”
Deeg! Napasku tertahan
sejenak. Lima? Lima juta?
Apa aku
tidak salah dengar? Benarkah dia
mengatakan angka sebesar
itu? Lima juta untuk
sepotong blus batik…. Itu
harga batik yang
kulihat di toko
yang menjual merk
batik no.1 di
Indonesia!! Benar! Batik yang digunakan
para pejabat itu
harganya 5 juta!!
Dengan uang
sebanyak itu, aku pasti
bisa melunasi hutang-hutang
kami dan sisanya
kupakai sebagai uang
muka sepeda motor. Bu
David terlihat puas
dengan ekspresi bimbangku. Dia berhasil
menggoyahkanku. “Masih
kurang ya? Baik, pikirkanlah harga
yang pantas untuk
batik itu. Setelah kau
bicarakan denganku, akan langsung
kuambil seharga yang
kau mau. Bahkan, kalau kau
mau aku juga
bisa mempromosikan kenaikan
jabatanmu, Nena.” Ucapan itu
makin jadi bumerang
dihatiku. Aku tahu itu
sangat berlawanan dengan
prinsipku, tapi aku juga
membutuhkan semua yang
ditawarkannya itu!
“Maaf, saya permisi
dulu. Banyak pekerjaan yang
belum diselesaikan,” pamitku
beranjak berdiri. Ia mengangguk
tersenyum. “Silakan. Saya
tunggu kabar darimu
secepatnya, kuharap kau tidak
melewatkan kesempatan selangka
ini. Biarkan pembicaraan ini
antara kita saja
yang tahu.”
Pintu yang
tadinya kubuka dengan
mudah, sekarang jadi terasa
berat sekali. Apa aku
harus meyakinkan ibu? Mungkin
ada baiknya aku
mencoba. Mungkin ibu bisa
mengerti dan aku
tidak akan menyesal
dikemudian hari. Ya. Pulang nanti, akan
langsung kubicarakan pada
ibu. Beliau pun pasti
akan mendukung keberhasilan
anaknya…. Untuk keluarga.
15 September
2014
Sudah seminggu
ini aku berusaha
bicara, tapi aku masih
kesulitan mengucapkannya pada
ibu!! Kenapa? Kenapa? Kenapa
seberat ini untuk
mengatakannya? Kenapa aku jadi
setakut ini sih?? Apa
ibu akan kecewa? Apa
ibu akan sangat
sedih? Jangan-jangan! Be, beliau
justru akan menangis?!
“Ada apa, Nena? Sejak minggu
lalu, mukamu sebingung itu
dan pegang kepala
terus. Kamu sakit? Apa ada
yang kamu pikirkan?”
tanya ibu. Beliau benar-benar
mengenali anaknya. Saat itu, tiba-tiba Farhan
adikku pulang. Ia segera
minta makan pada
ibu. Karena ibu dibawanya
ke dapur, maka aku
menunda lagi apa
yang ingin kubicarakan.
Kalau Farhan
yang ada diposisiku, apa yang
akan dilakukannya ya? Memang
sekarang dia masih
kecil, tapi dia sudah
lebih bijaksana daripadaku. Apa untuk
pilihan seperti inipun, dia
akan jauh lebih
bijak dariku? Aku segera
menyusul mereka ke
dapur. Ibu yang sedang
menyendokkan nasi untuk
Farhan tersenyum padaku. “Kamu
juga mau makan, Nena?”
tanyanya lembut.
Tapi aku
menggeleng. “Aku mau minum
air kok.”
“Kak, Kak! Tadi Farhan
sempat mampir ke
rumah Yanto, Farhan lewat
puskesmas deket rumahnya. Ada
tulisan diskon pengobatan
tiap hari Senin
lho, Kak! Kalo asma Kakak
masih sering kambuh, berobatnya ke
sana aja. Nanti Farhan
tunjukin tempatnya!” Cerita
adikku itu meluapkan
rasa haru didada. Ya, dia memang
masih SD. Tapi dia
benar-benar memikirkan keluarganya. Akupun…. Akupun ingin
melindungi keluarga yang
sudah kehilangan bapak
ini. Tapi apa caraku
sudah benar kalau
aku memilih keputusan
ini?
Mengambil segelas
air sambil sibuk
memikirkan hal lain, aku
benar-benar payah. Jadinya gelas
itu jatuh dan
pecah. “Aduuh!” tukasku kesakitan. Pecahannya ada
yang menggores jariku, untungnya luka
kecil. “Mana tanganmu,
Nena!” seru ibu
cepat-cepat menghampiriku.
Beliau meraih tanganku
dan bernapas lega
setelah melihat lukaku
tidak parah. “Bukan luka
parah, tapi tetap harus
cepat diobati. Ayo, ikut Ibu!”
Tapi aku
menggeleng. “Nggak usah, Bu.
Aku bisa
obati sendiri kok, Ibu
lakukan yang lain
aja ya. Kan nggak
susah ngobati sendiri
luka kecil gini.”
Wajah ibu masih
tampak tidak terima, tapi
beliau sama sekali
tak mengatakan apapun. “Nggak apa-apa, Kaak??” seru
Farhan tak kalah
cemas. Sesendok nasi dan
secuil perkedel yang
akan dilahapnya jadi
diam membeku. “Iya, nggak apa-apa
kok. Kakak obati dulu
ya, makannya dihabiskan lho!”
Di kamar, sambil
mencari kotak obat, mendadak ucapan
Bu David terngiang
kembali dikepalaku. Sampai sekarangpun, aku masih
belum sanggup meminta
pendapat ibu.
28 September
2014
Sejak pagi
ibu sudah tidak
di rumah, beliau meninggalkan
surat untuk memberitahu
kalau dirinya pergi
mendaftar lomba peragaan
busana bersama Bang
Tono. Rasanya hatiku makin
ngilu membaca itu. Ibu
begitu bersemangat mengikuti
lomba peragaan batik, apa
jadinya kalau aku
menjual batik itu
pada Bu David? Rasa
sakit menguar didada
hingga aku kesulitan
menulis laporan yang
harus kuserahkan pada
kantor besok.
Tiba-tiba Farhan
muncul sambil membawa
bola merah. “Kak Nena, minggu
depan kelas Farhan
kebagian ke Taman
Safari. Disuruh bu guru
bawa uang 15
ribu sama bekal, bisa
ya Kak?” Seketika
itu pikiranku melayang
ke arah tawaran
Bu David. Kalau aku
terima tawaran itu, aku
bisa pasang harga
yang cukup untuk
membiayai hidup kami, melunasi hutang-hutang, dan masih
sisa untuk keperluan
penting lainnya.
“Bisa kok. Farhan
siap-siap yang betul
ya buat minggu
depan!” jawabku riang. “Iiyaa!! Hooree! Hooreee!! Makasih,
Kak Nena! Farhan main
lagi yaa!” soraknya
berlari pergi, masih membawa
bola merah yang
dibawanya masuk tadi. Aku
menghela napas. Sekarang benar-benar
jadi masalah serius.
Jam 2
siang ibu baru
sampai rumah. Katanya setelah
daftar lomba ditraktir
makan Bang Tono, makanya
beliau pulang dengan
membawa sebungkus tahu
campur. Karena aku sudah
makan, kubiarkan Farhan menghabiskan
sebungkus tahu campur
itu. Adikku itu keasyikan
main di luar
dan belum makan
sih.
Saat Farhan
makan sendiri sambil
menonton televisi, aku membawa
ibu ke kamar. “Ada
apa, Nena?” tanya ibu
penasaran. Beliau duduk dengan
sopan dan matanya
berbinar indah. Wanita yang
memiliki sepasang mata
indah itu sudah
berjuang sangat keras
membesarkanku dan Farhan
seorang diri selama
ini.
Aku duduk
di hadapannya dengan
wajah mendung. Sementara senyum
menyilaukan masih menempel
diwajah ibu. Makin berat
rasanya mengatakan ini. Tidak
tega rasanya harus
melenyapkan senyum indah
itu dengan seulas
kalimat yang terkesan
kejam. Akhirnya aku menghela
napas sejenak.
“Bu, Nena mau
tanya pendapat Ibu.”
Ibu menganggukkan
kepala.
“Bu, kepala divisi
yang Nena tempati
tertarik banget sama
batik yang mau
Nena kasih buat
Ibu. Katanya mau dibeli
seharga berapapun. Ibu….
Nggak apa-apa?” tanyaku, sambil melirik
kepada ibu.
Ibu tersenyum, tapi aku
bisa merasakan kesedihan
dan kekecewaannya. “Ya sudah, Nena. Kalau begitu
kamu jual saja
ke atasanmu itu, nggak
apa kok. Ibu tahu
kamu cuma berusaha
melindungi keluarga dengan
mencarikan uang. Lagipula kain
batik itu diberi
Nak Devi untukmu
kan? Jadi lakukan saja
apa yang ingin
kamu lakukan.”
Kalimat yang
begitu lembut dan
penuh keikhlasan. Aku benar-benar
merasa hatiku sudah
disiram seember air
yang begitu menyegarkan. Perasaan lega
memenuhi diriku. Ibu benar-benar
memahami anaknya. “Terima kasih! Terima
kasih, Ibu!” seruku, dengan langsung
memeluknya. “Aku janji aku
pasti perbaiki kondisi
keluarga dengan pengorbanan
Ibu ini! Aku janji
pasti kasih yang
terbaik buat keluarga
kita, Bu!” Ibu menepuk-nepuk
punggungku. Tangannya terasa sangat
hangat. “Iya, Nena. Ibu
banggga punya anak
yang memikirkan keluarga.”
1
Oktober 2014
Aku bangun
lebih pagi dari
biasanya untuk menghitung
besar uang yang
kami butuhkan dan
harga yang bisa
kuberikan pada Bu
David. Pagi itu masih
gelap, jam setengah 4. Setelah
selesai, aku bergegas ke
kamar mandi. Aku terkejut
melihat lampu ruang
tamu menyala. Terdengar pelan
suara ibu berbicara. Begitu kuteliti, ternyata beliau
menggenggam telepon di
ruang tamu.
“Karena itu, Nak
Tono. Tante putuskan batal
ikut lomba itu, maaf
sekali ya.”
Hatiku bagai
ditabrak truk mendengarnya. Aku segera
berlari, tanpa pikir panjang
aku langsung berlari
ke kamar. Ya Tuhan! Apa
yang sudah kulakukan?! Demi sejumlah
uang, aku mau membunuh
keinginan wanita yang
tak pernah lelah
mengalah demiku?!
Keinginannya yang tidak
sampai setahun sekali
bisa terpenuhi?! Maaf!
Maafkan aku, Ibu!
Bu David
sedang berdiri di
depan jendela saat
aku masuk ke
ruangannya. “Jadi bagaimana,
Nena? Berapa harga yang
kau inginkan?” tanyanya
optimis. “Maaf, Bu David.
Kali ini, saya benar-benar
tidak akan menjualnya. Saya tidak
akan menarik kata-kata
ini!” Dan hari
itu juga, aku mendapat
perlakuan khusus berupa
penurunan jabatan. Tapi tidak
apa, aku tidak akan
menyesal. Uang masih bisa
dicari, sedangkan impian ibu
tidak bisa dijual.
Aku pulang
dan menyerahkan batik
itu pada ibu. Sekarang, batik itu
resmi menjadi milik
ibu. Ibu menangis sambil
tersenyum dan mencium
pipiku. Beliau sangat senang
menerimanya, tidak rugi aku
mengorbankan jabatanku. Akhirnya,
ibu jadi
mengikuti lomba peragaan
batik di kantor
Bang Tono tanggal
2 Oktober. Betapa kagetnya
kami berempat begitu
nama ibu dipanggil
sebagai juara pertama! Dan
yang lebih mengagetkan, ibu memenangkan
sejumlah uang senilai
15 juta!! Kami berempat
melompat-lompat kesenangan,
dan dengan itu
seluruh hutang kami
bisa terlunasi. Bang Tono
pun disanjung oleh
teman-teman kantornya.
Benar-benar kebahagiaan diluar
dugaan.
Blog
post ini dibuat dalam rangk mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen
"Pilih Mana: Cinta Atau Uang?" #KeputusanCerdas yang
diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com